Dede Sitorus Inovasikan Pinggiran Roti yang Terbuang Jadi Cemilan Enak Sosezi

 Dede Sitorus Inovasikan Pinggiran Roti yang Terbuang Jadi Cemilan Enak Sosezi
Dede Pane Sitorus

Diposkan: 31 Jul 2019 Dibaca: 1735 kali


 


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Berawal dari adanya kompetisi bisnis di kampus, dimana mahasiswa dituntut menjadi kreatif, inovatif dengan memanfaatkan sesuatu yang terbuang menjadi bernilai ekonomis, dara yang satu iniberhasil ciptakan cemilan enak.

Ade Rivana Sitorus (19), menggunakan bahan baku pinggiran roti yang acapkali dibuang. "Pinggiran roti itu awalnya mau saya beli tapi toko roti tidak kasih, lalu kita ambil saja secara gratis kemudian saya olah menjadi cemilan dengan nama Sosezi yaitu sosis roti sehat bergizi," jelasnya.

Wanita bertubuh mungil warga Jalan Sei Musi Darussalam, Medan, yang merupakan anak sulung dari 4 bersaudara ini mengaku berkat dari kompetisi itulah ia kini memiliki usaha menjanjikan.

Untuk memulai bisnis ini ia mengaku mengeluarkan modal yang cukup banyak dari Rp8 juta yang belum termasuk sewa tempatnya yang terletak di kampus II Universitas Medan Area Jalan Setia Budi Medan, kampus tempatnya mengenyam pendidikan.

"Modalnya Rp8 juta, saya produksi sekali dalam dua hari, dan semua roti yang diproduksi dititipkan juga di kampus lainnya dan tidak ketinggalan juga memasarkannya melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook," kata Ade Rivana Sitorus yang akrab disapa Dede ini.

Dalam sehari ia bisa memperoleh Rp200 ribu persatu kampus. Bayangkan jika ada 3 atau 5 kampus, kelar wanita ini memenuhi kebutuhan hidupnya. Agar tidak monoton, roti olahannya itu dibuat dengan berbagai varian rasa yakni bulat Mozarella, gulung krispi juga sosis roti.

Cara membuatnya diakuinya tidak sulit. Pinggiran Roti yang sudah tidak terpakai oleh toko roti itu diremas menggunakan sarung tangan lalu dimasukkan isinya lalu digoreng. Hasilnya enak dan lezat juga sehat.


Dede yang mengaku masih semester 4 ini juga menemui berbagai tantangan tetapi ia menyadari berada di bisnis kuliner harus selalu kreatif dan invoatif. Dia pun komitmen dalam 2 bulan sekali harus berinovasi kembali agar tidak ketinggalan dengan yang lain.

"Tantangannya bagaimana kita ditutut untuk selalu kreatif dan inovatif. Dikuliner itu 2 bulan sekali harus inovasi," katanya.

Selain itu ia juga  pernah menemui kendala yaitu  kekurangan modal. Sehingga ia sadar harus menjual lebih banyak lagi dan iapun mulai membutuhkan reseler dan ternyata sangat membantu dirinya. Dan ia juga harus pandai membagi waktu antara kuliah dan menjalankan bisnis.


"Semester empat di UMA. Saya harus pintar membagi waktu dengan kuliah , seminggu Kedepan saya sudah menetapkan planing sehingga tidak bentrok. Tetapi saya tidak memungkiri juga sering menemui waktu yang betrok namun saya harus memilih mana yang prioritas," tegasnya.

Kenikmatan berbisnispun diakuinya sudah ia rasakan mulai mendapatkan relasi yang luar biasa, juga mendapatkan ilmu luar biasa dan bahkan ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa meminta lagi kepada orang tuanya.

"Yang sudah saya peroleh dari berbisnis yakni relasi yang luar biasa, ilmu yang bermanfaat, banyaknya teman teman yang mensuport saya dan saya  bisa memenuhi kebutuhan sendiri," ungkapnya.


Anak pasangan Evi Suryani (43), Robert Sitorus (48) selalu mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Seperti saat ia harus bergadang mempersiapkan buka stand di acara festival ekonomi syariah yang digelar Bank Indonesia di Hotel Adimulya. Orang tuanya bukan memintanya berhenti, namun dia selalu mengatakan  pasti bisa.

"Saya sudah bergabung di komunitas  ekspsor saya jadi ingin ke jalur ekspor. Saat ini saya  sudah mulai mengurus izin halal dan izin penting lainnya," tandasnya.(UKM06)

 


Tags

1 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved