D'CELUP, Ambisi Dina Mahdy dan Rekan Kenalkan Eco Printing di Medan

D'CELUP, Ambisi Dina Mahdy dan Rekan Kenalkan Eco Printing di Medan
Produk Eco Printing

Diposkan: 22 Oct 2018 Dibaca: 1738 kali


 

 

 

 

UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Cukup sukses di Pulau Jawa, Eco Printing, teknik cetak yang memanfaatkan pewarna dari bahan alami, mulai merambah Kota Medan.

Adalah Dina Mahdy yang memperkenalkannya, setelah berhasil dengan produk fesyen D'HIJAB, miliknya.

Memang, kain batik menjadi tren busana beberapa tahun ini. Tidak sebatas pada batik tulis dan batik cap saja, tetapi berkembang pada batik kontemporer, salah satunya adalah batik Eco Print, Sesuai dengan namanya, Eco dari kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak bahan-bahan-bahan yang ada di alam, salah satunya daun.

Kepada ukmkotamedan.com, ibu satu anak yang terlihat jauh lebih muda di usianya yang memasuki 51 tahun itu mengatakan, Eco Print, merupakan teknik cetak sistem pencelupan kain yang pewarnaan alaminya diperoleh dari daun dan ranting pohon.

Teknik pengolahan kain tersebut menurutnya baru ada di kawasan Pulau Jawa seperti Jakarta, Yogyakarta dan lainnya, dan belum ada di Kota Medan. Anggota Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumut itu mengatakan, Indonesia selain terkenal dengan batik, metode pewarnaan seperti Eco Print juga mulai dikenal di masyarakat.

"Sehelai kain direndam, lalu daun di pinggir jalan dari mana-mana diberi perlakuan, selanjutnya ditempelkan di atas kain polos, terjadilah pewarnaan. Warna berbeda akan diperoleh dengan berbagai macam teknik perlakuan, ada yang memakai tawas, tunjung. Kalau dengan ranting, itu biasanya dari pohon Jeleweh, pohon Secang, pohon Pingi, menghasilkan warna alami, seperti kuning, merah, pink, intinya jadi cantik," ujarnya.

Di Yogyakarta kata Dina, produsen eco print biasanya menggunakan daun pohon jati atau jarak. Namun di Kota  Medan menurutnya, bisa diimplementasikan dengan menggunakan daun dari banyak pepohonan yang banyak ditemui, misalnya sukun.

Untuk eco print kata dia, ada corak mulai dari basic hingga advance akan terlihat tergantung jenis daun hingga jenis perlakuan yang diberikan. "Kalau basic, pola daun aja yang terlihat, tapi tulangnya tidak terlihat. Untuk advance, ada corak daun, tulang dan keluar jarinya (ruas daun), beragam warna. Caranya kain dan daun kita beri perlakuan dulu, ditempel ke kain, digulung, dilipat, baru dikukus," ucap perempuan yang besar di Jakarta itu.

Selain membuat pencetakan kain dengan eco print, berbagai macam kain bercorak termasuk batik menurutnya juga bisa digabungkan (combine) dengan eco print. Dina mengatakan, setelah memulainya di Jakarta, keinginannya untuk memulai usaha tersebut di Kota Medan bersama tiga rekannya, Nuni, Inne dan Iin, lantaran ingin konsumen Kota Medan tidak hanya mengikuti tren yang ada, tapi juga bisa menerima produk baru seperti Eco Print.

"Pengen lain dari yang lain. Saya akui, Medan lain dari yang lain. Kalau di sini (Medan) ngikuti tren, tidak seperti Jakarta yang mulai menyukai hal-hal berbau anti-mainstream," ungkapnya.

Dina mengakui, untuk dunia fashion saat ini, daya beli masih kurang, tapi kreativitas para penggiatnya juga cukup beragam. Apa lagi katanya, banyak kreativitas lain yang bisa dilakukan kepada kain selain Eco Print, salah satunya shibori/tie dye (teknik pewarnaan kain dengan metode ikat dan celup).

Dina menargetkan awal 2019, D'CELUP, merk usahanya tersebut, mulai diperkenalkan di Kota Medan. Saat ini, sejumlah eksperimen tengah dia lakukan dengan memanfaatkan daun dari pepohonan yang ada di ibu kota Sumatera Utara ini. "Insya Allah akhir tahun ini sudah mulai jalan, itu harapan kami," ungkapnya.

Selain itu, dia juga bertekad untuk memperkenalkan metode eco print kepada masyarakat Kota Medan lewat pelatihan di rumahnya di kawasan Asam Kumbang.(UKM05)

 


Tags

6 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved