Datangi Asprindo Sumut, Sri Danty Beber Peluang Besar dari Budidaya Bandeng
Diposkan: 20 Dec 2018 Dibaca: 1094 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Sri Danty, pelaku usaha yang bergerak di bidang Industri Presto mengungkap besarnya peluang usaha dari budidaya ikan bandeng yang belum dilirik banyak orang.
Hal ini dikatakannya saat berkunjung ke Sekretariat Asosiasi Pengusaha Bumiputra Nusantara Indonesia (Asprindo) Sumut di Jalan Tennis, Rabu petang (19/12/2018).
Di sini, dia juga berharap Asprindo Sumut untuk mengembangkan perekonomian kerakyatan. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Sebab banyak peluang yang bisa ditangkap dari konsep ekonomi kerakyatan ini. Baik itu di sektor sandang, papan maupun pangan. Bahkan peluangnya bisa menembus pasar ekspor.
"Perekonomian kerakyatan itu sangat besar potensi, dan sangat luas. Mulai dari sandang pangan dan papan," ujarnya.
Sri Danty yang mengaku sudah 12 tahun bergerak di bidang Industri Presto ini diterima langsung oleh Ketua Asprindo Sumut, Rafriandi Nasution, Sekretaris, M Nazmi Matondang serta pengurus lainnya.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekira satu jam itu, Sri Danty memaparkan besarnya peluang dan potensi pasar masih dalam sektor industri dan makanan, pada saat ini yang sedang kita kembangkan dalam bidang perikanan khususnya untuk budidaya ikan bandeng yang jarang dilirik pelaku usaha.
“Indonesia ini kan negara penghasil ikan, kenapa tidak ada ikan yang di konsumsi masyarakat dengan layak. Karenanya saya punya harapan
besar dengan Asprindo ini,”ujarnya.
Sebagai wadah pelaku usaha sebutnya, Asprindo bisa menangkap dan menjadikan hal tersebut sebagai peluang untuk membangun perekonomian kerakyatan. “Kita manfaatkan ini, plasmanya rakyat, intinya Asprindo. Untuk plasmanya ini terdiri dari koperasi - koperasi, yang akan mendukung pelaku usaha yang bernaung dibawah Asprindo,”ujarnya.
Konsep ekonomi kerakyatan ini sambungnya, juga akan menjadi penopang ekonomi masyarakat ditengah lemahnya daya beli saat ini. “Melemahnya
daya beli masyarakat, kita mengandalkan ekonomi kerakyatan. Ekonomi
kerakyatan adalah dari rakyat untuk rakyat,”imbuhnya.
Disini, dia memaparkan peluang dari budidaya ikan bandeng tersebut. Ini akan membuat masyarakat bisa menjangkaunya, karena produksi sendiri. Untuk sistem kerjanya Danty menjelaskannya, ikan laut dikembangkan didaratan dibuat seperti tambak. Kemudian ikan dikelola dan dibesarkan sendiri selanjutnya dipasarkan dengan murah.
“Ini peluang bisnisnya, marketing sangat luar biasa. Misalnya setiap pasar diberikan 150 kg, berapa pasar yang ada di Sumut. Ini sangat potensial. Kalau sehari dua kali 150 kg, sebulan sudah berapa, dijual dengan harga lebih murah”ujarnya.
Jika saat ini harga ikan dipasaran mencapai Rp 15.000 hingga Rp20.000, ikan ini bisa dijual dengan harga Rp 10.000 per ekornya.
Dengan harga tersebut sambungnya, keuntungan yang diraih bisa mencapai 50%. “Dan ini hanya 4 bulan untuk ukuran 10 ekor satu kg. Mulai dari
pembibitan sampai panen,” ujarnya.
Sedangkan untuk investasi awal, Danty mengatakan tidak harus beli lahan, karena bisa diupayakan dengan sistem sewa.
Konsep seperti ini sebutnya, sebenarnya sudah dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Juana, Semarang, Jawa Tengah.
“Peluangnya sangat besar. Makanya saya bawa ke Asprindo. Karena saya melihat ini pengusaha pribumi, sehingga masyarakat kita itu tidak hanya duduk kongkow bersama-sama tapi ada yang dikerjakan secara kolektif,” ujarnya.
Ketua Asprindo Sumut, Rafriandi Nasution merespon positif peluang tersebut yang bisa disinergikan dengan program Asprindo.
Wakil Ketua Bidang Industri Maritim, Kelautan dan Perikanan, Budi Aswin Lubis, menambahkan program tersebut sangat bagus untukpeningkatan ekonomi kerakyatan. “Kita dari Asprindo sangat mendukung. Program ini akan kita pelajari lebih lanjut, agar bisa kita wujudkan seluruh peluang-peluang yang ada. Tujuannya untuk menumbuh kembangkan perekonomian rakyat, tentu akan berpengaruh pada perkapita nasional,” ujarnya.
Asprindo juga sambungnya akan merangkul petani-petani ikan yang beradadi sumatera utara khususnya didaerah pinggir pantai untuk budidaya ikan bandeng ini dan menjadikan Asprindo sebagai wadah Inti. Untuk langkah awal akan membentuk koperasi sebagai pendukung bagi petani ikan.
“Ini prospeknya paling besar,” ujarnya, apalagi selama ini, budidaya ikan bandeng ini belum banyak yang tahu, karena dinilai tidak menjanjikan. Namun, Bali dan Surabaya ternyata sudah berhasil, pemasarannya bukan cuma untuk pasar lokal saja tapi sudah secara internasional. (rel/UKM01)