Dari Kaki Lima, Kini Morin Sediakan Makanan Buat Ratusan Pegawai di Dua Mal Medan
Diposkan: 08 Nov 2018 Dibaca: 1123 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Kesuksesan diperoleh dari jalan yang tak terduga. Namun, pengorbanan dan kerja keras biasanya mengiringi jalan kesuksesan itu.
Seperti yang dialami Sri Yuanita (35), pemilik Dapur Bunda, yang menyediakan makanan bagi ratusan karyawan tenant di dua mal di Kota Medan, Sun Plaza dan Mal Center Point.
Keputusannya menjadi wirausahawan usaha kaki lima menyediakan santapan makan siang di kawasan emperan toko di Jalan Pangeran Diponegoro lima tahun silam, tidak disangka akhirnya naik kelas setelah 2013 silam dipercaya menjadi penyedia makanan bagi karyawan Sogo khususnya dan tenant lainnya di salah satu plaza paling ramai di Kota Medan itu.
Disambangi di kantin Dapur Bunda di basement Sun Plaza, beberapa waktu lalu setelah membuat janji bertemu, ibu dua anak ini terlihat sibuk melayani pembayaran pelanggan kantinnya. Melihat kedatangan ukmkotamedan.com, dia lantas mempersilahkan duduk dan lalu menghampiri. Kebetulan tidak banyak lagi karyawan yang hendak membayar harga makanan yang telah selesai disantap pada waktu jelang sore tersebut.
Perempuan yang biasa disapa Morin itu menceritakan, keputusannya terjun ke dunia masak-memasak cukup unik. Bukan hanya awalnya karena dia tidak bisa memasak, tapi bahan masakan macam lengkuas atau jahe saja dia tidak bisa membedakan.
"Setelah menikah saya ikut suami yang ditugaskan ke Jakarta selama delapan tahun. Di sana saya sibukkan diri dengan berjualan pakaian, ambil barang dari Pasar Tanah Abang. Tapi setelah delapan tahun, suami akhirnya kembali ditugaskan tidak jauh dari Medan. Sampai di sini (Medan), saya mau buat usaha tapi bingung mau usaha apa. Lalu ada kepikiran buka usaha jual makanan karena mertua dulu usaha itu, tapi berhenti tahun 2005. Lucunya, saat itu karena selama di Jakarta ada yang masakin, saya tidak bisa masak. Lengkuas sama jahe saja saya tidak bisa bedakan," ujarnya, sedikit tersipu.
Namun, berkat ketekunannya belajar memasak termasuk dari mertuanya, membuatnya akhirnya bisa memasak. Dia pun lalu memutuskan untuk berjualan nasi dan lauk-pauk di depan toko Batik Trusmi di kawasan Jalan Diponegoro Medan.
Pelanggan yang memilih makan di kedai Morin semakin bertambah dari hari ke hari, termasuk seorang manajer di Sogo, kendati di basement tempat kantin Dapur Bunda berada sebelumnya sudah ada kantin yang menyediakan makanan seperti yang dia lakukan saat ini. Penasaran ingin tahu apa yang menyebabkan banyak karyawan Sogo yang makan di tempatnya, dia pun menanyakan kepada si manajer.
"Saya tanya kenapa lebih suka makanan di sini? Harganya kan lebih mahal dari di kantin. Manajer itu bilang, dia senang makanan saya. Lalu saya kembali iseng nanya, kenapa nggak saya saja yang mengisi kantin? Dia balik tanya, apa saya mau dengan harga per porsi yang lebih murah dibanding di tempat saya berjualan. Saya bilang, kenapa tidak," ucapnya.
Alumni Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan (UNIMED) itu mengatakan, tawaran itu dia terima lantaran lebih memilih kontinuitas dan banyaknya pelanggan kantin. Kendati harga makanan lebih murah dibanding saat dia berjualan di emperan toko, namun dia berpikiran akan lebih banyak pelanggan yang didapat jika di kantin. Dari banyaknya pelanggan, kendati keuntungan tipis, masih lebih baik dibanding dapat keuntungan lebih besar namun pelanggan tidak rutin.
Dengan modal sekitar Rp20 juta plus memanfaatkan peralatan masak milik mertua, dia memulai aktifitas barunya itu. "Ini sudah periode kedua saya di kantin Sogo. Tawaran si manajer tahun 2013 lalu saya terima sampai 2015. Tapi karena memang harus ada penyegaran, di tahun 2015 sampai 2016 ada orang lain. Baru tahun berikutnya (2016) sampai sekarang, saya di sini lagi," ucap alumni SMA Negeri 7 Medan tahun 2001 itu sambil sesekali menjawab anak sulung perempuan dan ana laki-laki yang sesekali datang ke meja, meminta perhatian sang ibu.
Namun, di tahun 2015-2016, Morin tidak lantas menghentikan usahanya itu lantaran atas rekomendasi pihak pusat perbelanjaan, dia juga diajak bekerja sama membuka kantin sejenis untuk Parkson, di lantai empat Mal Centre Point yang berjalan hingga saat ini. Selain itu dia juga membuka usaha yang sama di Jalan Pemuda (saat ini Restoran JM Bariani), dengan pelanggan yang cukup banyak, kendati akhirnya terhenti. Saat ini, dia juga menyediakan katering kepada 20 kepala keluarga (KK) di sekitar Kota Medan, belum lagi sebuah rumah Tahfiz Quran dengan puluhan santrinya di kawasan Medan Baru.
Ya, dengan hanya membayar Rp10 ribu satu porsi, karyawan di pusat perbelanjaan itu sudah bisa makan dengan aneka lauk yang disiapkan hingga malam hari. Apa lagi, tidak satu jenis saja masakan yang tersedia, Morin bilang, setiap hari dia menyediakan sekitar 30 jenis makanan di tempat itu, lantaran sudah merupakan kesepakatan dengan pihak Sogo dan tidak boleh kurang porsinya.
Di Sun Plaza, sekitar 700 porsi makanan dia siapkan tiap hari. Sementara di Mal Centre Point ada sebanyak 300 porsi. Istri dari Joko (35 tahun) itu mengatakan, sesuai perjanjian, karyawan Sogo diwajibkan makan di kantin tersebut, dan tidak diizinkan membawa bekal atau bontot, plus karyawan tenant lain di Sun Plaza yang diperbolehkan makan di tempat itu.
Untuk menjaga pelanggan tidak bosan dengan menu makanannya, selain menyediakan aneka lauk-pauk dan empat jenis sayuran, Morin juga menjual masakan lain seperti nasi goreng, mie ayam, mie sop, bakso, hingga soto serta aneka minuman. Namun, di kantin, dia tidak diperkenankan membawa peralatan masak seperti kompor. Untuk menghangatkan kuah sepeti soto dan sop, dia menggunakan penghangat nasi listrik.
Membantunya di kantin Sogo, Morin mempekerjakan delapan orang karyawan. Sementara di Mal Centre Point, ada empat orang. Untuk urusan produksi alias masak-memasak di dapur yang berada satu kawasan dengan rumahnya di Jalan Karya, Gang Sosro, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, dia mempekerjakan enam karyawan. Sementara dua supir bertugas mengantar makanan dan menjemput belanjaan ke pasar dengan kendaraan operasional pick-up dan Daihatsu Gran Max.
Lokasi berbelanja, Morin memilih pasar di kawasan komplek MMTC di Jalan Pancing Medan. Usai Salat Subuh kata dia, jika waktunya luang, dia sempatkan berbelanja sendiri ke pasar, lalu pulang mengganti baju untuk mengantarkan anaknya ke sekolah, bergantian dengan sang supir. Jika tidak sempat, dia hanya memesan saja barang belanjaan kepada pedagang lewat telepon, selanjutnya supir yang membawanya.
Menurut Morin, setiap hari dia harus menyediakan tiga karung beras ukuran masing-masing 30 Kg untuk dimasak dan didistribusikan bersama lauk-pauk dan lainnya ke dua kantin dan pelanggan katering. Setiap hari 10 kompor besar selalu menyala mengolah aneka masakan. Sebagai salah satu pengurus Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumut, Morin juga mendapatkan manfaat organisasi seperti menyediakan makanan saat ada kegiatan IPEMI dan mengikuti bazaar UKM menjual makanan.
Saat ini, belasan juta rupiah omset dia dapatkan setiap hari dari hasil usaha katering tersebut. Kendati modal berbanding keuntungan cukup timpang, 80% modal berbanding 20% keuntungan, Morin mengaku sangat bersyukur bisa ikut membantu perekonomian keluarga, bahu-membahu bersama suami yang merupakan kepala cabang perusahaan rokok di Langsa, Aceh.
Dengan. Apa yang didapat, perempuan berhijab itu tidak lupa menyisihkan pendapatan dengan bersedekah memberikan 100 bungkus "Nasi Barokah" ke masjid-masjid setiap Jumat bersama para donatur lainnya. "Dengan nasi barokah, saya jadi tidak lupa bersedekah," akunya.
Lantas apa yang membuat usaha Morin bisa bertahan dan tetap stabil hingga saat ini? Menurut Morin, menjaga kepercayaan konsumen menjadi hal yang sangat penting. "Komitmen dalam variasi menu yang harus kita sajikan. Rasa, bumbu perlu diperhatikan. Kalau kurang bumbu aja, konsumen bakal komplain dan lari. Kalau dia kapok sekali, gak akan balik lagi. Kita harus jaga kualitas karena akan menjaga nama kita," pungkasnya.(UKM05)