Budidaya Jamur Tiram Usai Kuliah, Pemuda Ini Hasilkan Belasan Juta Rupiah Tiap Bulan

Budidaya Jamur Tiram Usai Kuliah, Pemuda Ini Hasilkan Belasan Juta Rupiah Tiap Bulan
Indra Kesuma di pembudidayaan jamurnya.

Diposkan: 05 Sep 2018 Dibaca: 567 kali


UMKOTAMEDAN.COM- MEDAN-Namanya Indra Kesuma. Usianya masih cukup muda, 27 tahun dan masih lajang.

Namun, beda dengan pria pada umumnya yang memilih bekerja sebagai pegawai, Indra memutuskan menjadi petani jamur tiram, profesi yang mungkin kurang populer.

Kegigihannya sejak April 2015 merintis sejengkal demi sejengkal areal budidaya jamur tiram kini berbuah manis. Belasan juta rupiah dia raih pada profesi yang dia sebut gampang-gampang-susah itu.

Kepada UKMKOTAMEDAN.COM dia menuturkan, pilihannya menjadi petani lantaran melihat sebuah keunikan pada budidaya jamur yang bentuknya mirip cangkang tiram tersebut. "Budidaya jamur tiram ini masih sedikit yang melakukan dan harganya stabil. Saya melihatnya unik, makanya saya memutuskan untuk membudidayakannya," ujarnya, Selasa (4/9/2018).

Namanya sedang merintis, dia pun melangkah dengan keterbatasan pengetahuan. Salah satunya membuat media tanam. Syukurnya, langkahnya seolah dipermudah. Mengenal seorang pembuat media tanam bernama Ali di kawasan Medan Polonia, anak pertama putra pasangan Idham, 56 dan Darmaini, 51 memutuskan membelinya.

"Habis periode pertama (lima bulan), saya ketemu mas Hartopo di kawasan Jalan STM. Dia lah yang mengajari saya membuat media tanam karena dia juga di pembibitan, pembuatan media tanam hingga menjual jamur tiram. Kata dia, dari pada saya beli, bagus buat media tanam sendiri. Dia lalu ajari saya," ujarnya mengisahkan.

Hanya dengan waktu tiga bulan masa trial error (kesalahan dalam masa pembelajaran), Indra mengaku sudah bisa membuat media tanam sendiri. Dia lalu aplikasikan pembuatan media tanam untuk lumbung di kawasan Sei Rotan, Deliserdang (tempat budidaya jamur) pertama dimilikinya yang lahannya dia kontrak selama setahun.

Kontrak berakhir, kebetulan dia punya kenalan yang punya gudang kosong di kawasan sekitar Kampus UMSU Jalan Muchtar Basri Medan. Di "Kumbung" permanen berukuran 18x20 meter dia lanjutkan budidaya tersebut. Dia juga membeli lahan di kawasan Tembung, Deliserdang, kendati hanya berukuran 3x5 meter dan menjadikannya kumbung.

"Waktu di Sei Rotan, kumbungnya dibuat dari bambu dan atapnya dari daun rumbia meminimalisir pengeluaran.  Sekarang sudah di tempat permanen," kata sarjana Akuntansi Universitas Medan Area (UMA) alumni tahun 2015 itu.

Pria berkacamata mata itu mengaku, tidak banyak kesulitan membudidayakan jamur tiram jika bekerja sesuai prosedur operasional standar (POS). Masalah seperti jamur yang terkontaminasi dan lain-lain cuma terjadi karena keteledoran sendiri.

"Saya bilang gampang-gamoang-susah, gampangnya dua kali, susahnya sekali. Intinya kalau tidak sesuai SOP (standar operational procedure) pasti ada masalah seperti jamur akan terkontaminasi, dan kegagalan dalam hasil. Soal waktu awal pembibitan hingga panen sesuai teori selama 45 hari. Tapi kadang cuaca mempengaruhi. Kalau udara panas jadi agak lama," ungkap warga Jalan Letda Sujono, Benteng Hilir, Komplek Ray Pendopo No.49, Tembung ini.

Indra yang menjadikan budidaya jamur tiram sebagai penghasilan utama, mengaku paling sedikit mengumpulkan 10 Kg jamur dengan kisaran harga setiap Kilo-nya Rp20 ribu. Sementara untuk jumlah paling besar, dia mengumpulkan 60 Kg per hari.

Dengan begitu, jika dirata-ratakan 30 Kg hasil yang dia dapat perhari, dia bisa memperoleh pendapatan Rp18 juta setiap bulan. Namun, di awal, kendala yang dia hadapi usai panen adalah pemasaran. Tidak mau menyerah, dia menjajakannya ke berbagai tempat seperti pasar dan lain-lain.

"Awalnya ke pasar, door to door-lah. Tapi akhirnya ada agen yang menampung karena informasi kawan-kawan seprofesi," ungkapnya.

Tidak hanya budidaya, Indra juga sudah berpikir untuk mengembangkan usahanya tersebut. Penyebabnya, daya tahan jamur tiram yang tidak lama pasca panen berpotensi menimbulkan kerugian.

"Sudah ada rencana mengembangkan. Hari ini jual mentah, saya berpikiran jual jamur kemasan yang sudah jadi makanan. Lagi diusahakan, karena kalau misalnya jamur segar, daya tahannya nggak lama. Kami coba pikirkan, manfaatkan dengan menjadikannya produk karena daya tahan lebih lama. Tahun depan sudah bisa berjalan, insya Allah," pungkas pria yang saat ini mempekerjakan tiga karyawan sebagai pembuat media tanam jamur tiram.(UKM05)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2021. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved