BI Beberkan Komoditas Penyumbang Inflasi Sumut Makin Tinggi

BI Beberkan Komoditas Penyumbang Inflasi Sumut Makin Tinggi

Diposkan: 15 Aug 2019 Dibaca: 794 kali


 

UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Bank Indonesia membeberkan komoditas penyumbang inflasi 2019 di Sumut.  Komoditas itu yakni cabai merah, bawang merah, bawang putih, ayam ras dan sebagainya.

Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) meminta  Provinsi Sumatera Utara untuk lebih fokus menstabilkan harga bahan pokok di Kota Medan.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wiwiek Sisto Widayat mengatakan Kota Medan berkontribusi paling besar atas inflasi, yaitu mencapai 82 persen dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.

"Kenapa tidak difokuskan ke Kota Medan. Kalau Medan terkendali maka inflasi Sumut akan terkendali, karenakan 82 persen kontribusi dari Medan," kata Wiwiek, pada bincang Medaia yang digelar Habitat Coffee pada Rabu (14/8/2019).

Diakui Wiwiek, hingga Juli tingkat inflasi Provinsi Sumut secara year to date telah mencapai 5,21 persen, berada di atas inflasi Sumatera dan Nasional. Secara tahunan, inflasi IHK Sumut periode Juli mencapai 6,28 (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,87 (yoy). Lonjakan IHK bersumber dari kelompok komoditas volatile food (VF) yang mencatatkan angka 15,75 (yoy).

Ia menjelaskan harga bahan pokok, cabai merah masih menjadi faktor utama panyebab inflasi di beberapa daerah, termasuk Sumut. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat dari kemarau panjang.

"Selain itu, kami juga dapat info dari petani ada beberapa hama yang membuat keriting daun cabai, sehingga membuat cabai busuk sebelum matang," katanya lagi.

Dikatakannya, guna menggendalikan inflasi daerah, BI bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menemukan solusi-solusi baik dari jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

"Apa yang dikerjakan TPID, untuk mencoba agar inflasi tidak terlalu tinggi, terus melakukan berbagai upaya agar tidak terlalu tinggi. Caranya kita tetap mengacu road map yang sudah ditandatangani Sumut di 33 kabupaten, yaitu bagimana kita menjaga ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, menjaga kelancaran distribusi, kita tetap melakukan komunikasi kepada stakeholders, asosiasi perdagangan, asosiasi komoditi para pedagang dan masyarakat, semua elemen dan dan semua unsur," kata Wiwiek.

Sebelumnya, pihaknya bersama Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi melakukan survei di kabupaten Batubara. Menurutnya, daerah Batubara dapat menjadi sentra baru produksi cabai merah. "Totalnya sangat menjanjikan, kurang lebih ada lahan 400 hektar di Batubara (untuk produksi cabai)," jelasnya.

Wiwiek menjelaskan pengendalian harga juga dapat dilakukan dengan controlled atmosphere storage (CAS), yakni teknologi pengkondisian atmosfer pada ruang penyimpanan komoditas hortikultura. Itu digunakan untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan buah dan sayuran.

"Kalau yang jangka panjang bisa belajar dari DKI Jakarta dengan membentuk Badan Usaha Pangan, mereka berhasil menstabilkan harga bahan pokok. Sumut apalagi sebagai produsen pasti lebih mudah," tandasnya. (UKM06)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved