Bermula dari Sabun Transparan, Sendi Jadi Bos Kosmetik
Diposkan: 25 Mar 2019 Dibaca: 1001 kali
UKMKOTAMEDAN.COM - Ide usaha bisa datang dari mana saja. Seperti kisah Sendi Siswanto yang memulai usaha saat berusia 19 tahun dengan membuat sabun mandi transparan pada 2004 silam, terinspirasi dari temannya sesama pengamen jalanan.
“Kebetulan saya suka nyanyi dan senang ngamen. Saya bergaul dengan teman-teman sesama pengamen di Jakarta. Ada salah satu teman yang tahu formulasi sabun transparan dan saya berminat sekali untuk mengembangkannya,” kata dia dilansir dari Kontan, co.id, Senin (25/3/2019).
Usahanya berkembang pesat dan merambah ke produk kosmetik dengan skala pabrik. Kini, di bawah bendera PT Emaklon Digital Internasional, Sendi bisa mengantongi pendapatan miliaran rupiah per bulan.
Tapi siapa sangka, pria kelahiran 19 September 1985 ini mengawali perjalanan dari bekerja sebagai pemulung di Jakarta. Awalnya, ia menyusul orangtuanya ke Ibu Kota RI pada tahun 2003. “Dari kecil tinggal di Blitar sama nenek,” imbuhnya.
Sejatinya, orangtua Sendi merupakan pedagang pengumpul (pengepul) barang bekas, mulai kardus hingga besi tua. Meski, bisnis orangtuanya belum gede-gede amat.
Melihat pemulung yang dalam sehari bisa mengantongi duit Rp 150.000, dia pun tertarik. “Saya lihat, jadi pemulung enak banget. Saya coba jadi pemulung, cari-cari kardus bekas, tapi kok enggak dapat-dapat,” ujar Sendi yang hanya beberapa hari menjadi pemulung.
Akhirnya, ia pun memutuskan menerima tawaran dari orangtuanya untuk bekerja sebagai kenek truk milik mereka. Dia bertugas membantu supir mengantar barang bekas ke pabrik. Kurang lebih setahun ia melokoni pekerjaan itu.
“Seluruh keluarga saya berbisnis seperti yang orangtua saya lakukan. Tapi, saya lihat, mereka masih begitu-begitu saja. Akhirnya saya berpikir untuk bergerak dan keluar dari zona nyaman, lingkungan ini,” ucapnya.
Nah, saat mengamen, dia kenal dengan banyak pengamen, yang salah satu di antaranya, ya itu tadi, mengetahui resep membuat sabun transparan.
Bermodal tabungan sebesar Rp 2 juta dari hasil menjadi kenek, Sendi memberanikan diri menjajal usaha pembuatan sabun. Cuma, hitung punya hitung, modalnya masih kurang Rp 3 juta.
Sebab, selain untuk membeli peralatan dan bahan baku, ia meski mengontrak rumah untuk bengkel produksi. Setelah seluruh modal terkumpul, dia pun mulai menjalankan roda usahanya. Sendi mengawalinya dari proses percobaan selama sebulan untuk mendapatkan formula yang tepat. “Saya bikin pakai minyak, gula, dan bahan-bahan natural. Sederhanalah,” tuturnya.
Dalam membangun bisnis ini, dia mengaku banyak cobaan. Seperti rumah produksinya dekat dengan Pasar Pejagalan, Sendi pun menawarkan produknya untuk pertama kali ke pasar yang ada di daerah Tambora, Jakarta Barat itu. Yang bertugas menjual adalah temannya. Ia fokus di bagian produksi dibantu dua karyawan.
Cuma, gara-gara enggak laku, sang teman mengundurkan diri. “Jadilah saya sendiri yang harus pasarkan. Saya tawarkan ke Pasar Pejagalan,” katanya.
Nasib baik menghampiri Sendi. Dia bertemu pedagang besar di pasar tersebut yang mau membeli sabun transparan buatannya secara rutin, tapi tanpa merek. Alhasil, ia pun bisa mendekap omzet Rp 5 juta–Rp 10 juta sepekan.
Bisnisnya pun membesar, dengan jumlah karyawan mencapai 40-an orang. Rumah produksi juga pindah ke tempat yang lebih besar di Kabupaten Tangerang. “Walau masih home industry, sudah besar usaha saya,”pungkas Sendi.
Dia pun merambah ke produk kosmetik. Keputusan ini datang setelah Sendi mendapat tawaran mengikuti kursus gratis di Brata Camp dari pemilik Brata Co. Maklum, ia adalah pelanggan tetap Brata Co., yang menjual bahan-bahan kimia.
Selama enam bulan ia belajar membuat aneka produk kosmetik, seperti krim wajah dan perawatan kulit lainnya.
“Dari situ saya semakin tahu, bagaimana caranya produksi sabun, krim, dan lain-lain,” ujarnya.
Namun, lantaran tidak berizin, dua kali Sendi harus berurusan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta kepolisian, masing-masing tahun 2006 dan 2009. “Usaha saya ditutup,” tambah Sendi.
Bukan cuma itu, pernah juga rumah produksinya dibakar oleh kompetitor. Belum lagi dia kena tipu pembeli. Ditotal-total, kerugian mencapai miliaran rupiah.
“Tapi, saya tetap bangun lagi, karena mungkin saya dari kecil juga orangnya kalau jatuh, ya, harus bangun sendiri. Tapi jangan lupa berdoa, itu juga penting,” tambah Sendi.
Setelah usahanya ditutup kepolisian pada 2009, dia hijrah ke Surabaya. Kebetulan, pada tahun itu juga ia menikah dengan perempuan asal kota pahlawan tersebut.
Tambah lagi, Sendi punya mimpi membangun pabrik kosmetik yang belum bisa dia wujudkan lantaran investasi di Jakarta dan Tangerang sangat mahal. (*)
Sumber : Kontan.com