Berkat Kegigihan, Sutarman 'Sulap' Lahan Tidur Menjadi Tambak Ikan Produktif
Diposkan: 09 Apr 2019 Dibaca: 1150 kali
UKMMEDAN.COM, MEDAN- Berkat kegigihan dan kemauan bekerja keras seorang warga Jalan lembaga Dusun 11 Desa Tanjung Rejo, Paluh Merbau Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang membuka lahan tidur menjadi tambak yang menghasilkan Rp40 Juta/4 bulan sekali.
Sutarman (67) yang dijumpai di pondoknya di pinggir tambak seluas 2 hektar mengatakan tambak yang berisikan ikan nila dan mujahir itu didirikannya sejak 30 tahun lalu.
Diceritakanya lahan seluas 2 Hektar itu sebelumnya merupakan lahan tidur yang jarang terjamah tangan manusia. Berpuluh tahun tidak dikelola dan hanya ditumbuhi tanaman liar.
Sutarman yang mengaku saat itu tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya sesekali melaut karena kawasan itu terdapat Sungai Paluh Merbau yang terkenal di dalamnya banyak terdapat beragam ikan juga dipinggirannya hidup kepiting yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar juga Sutarman.
Namun, karena penghasilan yang tidak menentu, sementara ia harus menghidupi istri dan anak-anaknya ia pun mulai mencari pekerjaan yang pada akhirnya ia berkeinginan memiliki tambak. Mulailah ia membuka tambak di sebuah lahan tidur di kawasan Paluh Merbau.
"Awalnya lahan ini hutan atau lahan tidur, lalu saya usahakan supaya menjadi tambak. Buka lahan waktu itu seluas 2 hektar. Dulunya saya menggunakan lam (penggalian tanah secara manual) lalu dilakukan pengorekan menggunakan beko dan saya menghabiskan uang sebanyak Rp 20 juta," jelasnya.
Sutarman yang kini tidak muda lagi itu tampak bernafas lega mengenang masa lalunya yang sempat mengalami kesulitan mengembangkan tambaknya. Karena diuraikannya pada tahun 2001 tambaknya baru mulai mengalami perkembangan, ikan-ikan yang dibibitkannya berkembang biak. Tambaknya yang kian dalam, juga mulai menghasilkan uang hingga puluhan juta.
"Berkembangnya tahun 2001, Pertama saya isi tambak dengan ikan mujahir, nila dan bandeng. Hasil pertama 3 ton tetapi masih dengan sistem dipancingkan saja. Dulu saya bibitkan sendiri tapi sekarang harus beli bibit karena banyak limbah jadi kalau bibitin sendiri sering gagal," paparnya
Membangun usaha tambak ini, bapak 8 orang anak ini tidak selalu mulus. Pernah saat ia sedang mau panen pernah terjadi pasang besar di Sungai Paluh Merbau dan menerjang benteng tambaknya. Semua ikannya hanyut dibawa air. Dan pernah pula ikannya keracunan limbah akibat banyaknya sampah di sungai.
"Kendalanya limbah dari parit busuk yang mengalir di Sungai Paluh Merbau. Banyak yang mati dan perkembangannya tidak baik. Banyak limbah jika musim hujan, kita bisa hasilkan seharusnya 5 ton akhirnya hasilnya hanya 1 ton, rugilah," curhatnya.
Sayangnya, bertahun-tahun limbah ini menjadi Masalah pengusaha tambak juga masyarakat sekitar sampai saat ini dikatakan Sutarman belum ada tindakan dari pemerintah.
"Pernah sudah masuk media, masuk tv lagi limbah-limbah ini, juga ikan ikan mati akibat limbah, tapi gini-gini aja gak ada tanggapan pemerintah," katanya.
Usaha tambak seluas 2 hektar yang menguntungkan ini dikerjakannya seorang diri. aktivitasnya kebanyakan di tambak daripada berkumpul dengan keluarganya yang tidak jauh dari lokasi tambak yang dikelolanya.
Mulai pagi hari, dua jam ia gunakan mengorek tanah tambak menggunakan rakit, tanah itu kemudian ditimbunnya Dipinggir agar benteng tambak tetap tinggi menghindari air sungai masuk ke tambak. Aktivitas ini wajib dilakukannya setiap hari. Karena kontur tanah di sana lembek jadi mudah longsor jika tidak ditimbun terus.
"Setiap hari saya harus mengorek tanah dan menimbunnya dipinggir tambak , saya biasanya menggunakan rakit, Untuk pemeliharaan ikan ia hanya memberikan umpan (pelet) yang merupakan makanan ikan. Saya taburkan pelet itu Pagi dan sore. Makanannya hanya pelet. Setiap hari satu goni namun jika mau hemat satu goni saya buat menjadi 4 hari. Karena dana terbatas," tegasnya.
Jika musim panen rata-rata ia akan hasilkan ikan sebanyak 3 ton dengan nilai rupiah Rp 45 juta. Ia berharap usaha tambak ini bisa berkembang dan ia berencana membuka tambak yang dipancingkan lagi. Kalau bisa ia tidak lagi masukkan bibit melainkan langsung memasukkan ikan besar untuk tambaknya jadi mengurangi biaya pakan. (UKM06)