Berhenti Kerja Demi Usaha, Azri Sukses Pasarkan KOTAMA ke Banyak Instansi
Diposkan: 25 Oct 2018 Dibaca: 1162 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Nekat. Kata itu cocok untuk menggambarkan perjuangan Azri Smak, pemilik usaha sepatu bermerk Kotama (KOTAMA), produk sepatu lokal buatan tangan (handmade) asal Medan dalam merintis usahanya hampir 30 tahun silam.
Betapa tidak, ayah lima anak tersebut berani memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di salah satu perusahaan swasta produk obat-obatan dan memulai berjualan sepatu, diawali dengan menjual sepatu produk milik orang lain. Upayanya menjual sepatu akhirnya berhenti lantaran kata dia produsen tidak sanggup memenuhi dua ketentuan, kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian produk tersebut.
"Waktu jual sepatu orang itu kerja part time (paruh waktu). Lalu saya putuskan berhenti kerja setelah enam tahun di perusahaan. Saya coba buat sepatu. Ternyata yang saya lakukan tidak gampang. Namanya usaha, apalagi harus berproduksi, tiga aspek penting, modal tenaga kerja dan bahan saya lemah di situ," ujarnya.
Tidak mau salah melangkah, uang pesangon Rp1,6 juta yang dia dapat dari perusahaan dipakai untuk modal mencari tahu keistimewaan sepatu asal Cibaduyut Jawa Barat yang masyhur itu. Sesampai di sana, nyatanya dia melihat tidak ada yang istimewa. Bahkan pria yang bertempat tinggal di Jalan HM Joni Medan itu menilai, keterbatasan pendidikan sebagian wirausahawan sepatu Cibaduyut dirasa sebagai kelemahan untuk mengelola usaha dengan baik.
"Kalau tidak punya pendidikan bagaimana buat perencanaan? Apa lagi tidak ada manajemen, tukang sepatu jadi macam keset, senang pakai, gak senang buang," ucapnya.
Kembali ke Kota Medan, dia memberanikan diri untuk membuka usaha sepatu Kotama dengan meminjam uang ke bank tahun 1990. Sepatu PDL, PDH, kantoran, dan sepatu lain berbahan kulit dia produksi. Walaupun sulit awalnya, namun selanjutnya dia mendapatkan dana segar dengan mengajukan pinjaman ke bank. Menurutnya, kebutuhan masyarakat akan sepatu khususnya karyawan baik di instansi pemerintah maupun swasta membuat usahanya tidak mungkin tak laku.
Dengan keyakinannya, Azri terus berusaha. Kendati permasalahan datang silih-berganti dia tetap membulatkan tekad melakoni usaha tersebut. Ketua Kopinkra Sepatu Kota Medan itu menilai, perilaku hidup sehat yakni tidak berjudi, minum minuman keras dan mengonsumsi narkotika menjadi salah satu hal yang membuat usahanya maju.
"Namanya usaha, tentu ada kredit macet. Tapi syukurnya, saya bisa menyelesaikannya. Bahkan sekarang, bank yang berlomba-lomba meminta saya untuk ajukan pinjaman," ungkap Ketua Forum UKM Kota Medan tersebut.
Kualitas sepatu dan harga yang relatif lebih murah dibanding produk lain menurutnya jadi satu nilai plus Kotama. Pasalnya, selain menjaga mutu produk, dia juga memberlakukan garansi dan purna jual.
Untuk klaim garansi dan purna jual yang disebut Azri, ukmkotamedan.com kebetulan mencari di mesin pencarian google dengan kata kunci purna jual sepatu. Artikel mengenai Kotama berada pada peringkat pertama di pencarian tersebut, yang ternyata berisi ulasan produk plus banyak komentar positif dari pelanggan yang sudah memakainya.
"Kita garansi, ada pelayanan purna jual, dan satu-satunya adalah KOTAMA, handmade. Lem lekang, sol patah, kita ganti yang baru," ucap Azri.
Saat ini, sebanyak 25 karyawan membantu dalam kelancaran usahanya tersebut. Namun, Kotama tidak bisa didapat di pusat perbelanjaan dan hanya bisa didapat di Workshop dan Showroom-nya di Jalan AR Hakim/Jalan Bakti No 206 C Medan.
Menurutnya, jika memasok ke toko, harganya akan semakin mahal. Untuk itu, dia melakukan penjualan dengan cara langsung atau direct sale kepada pelanggan. "Sepatu untuk pemadam kebakaran, sekuriti, bengkel, sekolah teknik, SMK, kantoran, untuk perempuan dan laki-laki," ucapnya. Dia juga melayani pembuatan sepatu custom atau pesanan sesuai keinginan.
Pria yang sempat memiliki usaha rumah makan dan kini menjadi Ketua Asosiasi Rumah Makan Kota Medan itu merasa, penjualan langsung akan membuat harga pembelian tidak terlalu mahal. Pasalnya kata dia, jika sudah masuk ke toko, sepatu yang biasanya dia jual seharga Rp200 ribu hingga Rp400 ribu bisa lebih mahal 50% hingga dua kali lipat harga awal.
"Itu juga yang membuat saya memilih jual langsung dengan bekerja sama dengan koperasi di instansi itu, kantor, ikut tender, bahkan boleh diangsur. Kalau koperasi kita kasih persenan besar, nggak ada uangnya kita angsurkan," ucapnya seraya menyebutkam bisa memproduksi 3000 pasang sepatu dalam sebulan, namun untuk yang kualitasnya baik hanya 1000 pasang dalam sebulan.
Perusahaan seperti PDAM Tirtanadi, Pelindo di Sumut, Aceh Riau dan Kepri, hingga bank sudah bekerja sama dengannya bahkan ada yang sampai puluhan tahun. Menurutnya, ketahanan produk menjadi modal usahanya masih bertahan bahkan di masa sulit seperti saat ini.
"Pelanggan bilang sepatunya tahan hingga tiga tahun. Tentunya itu karena kita jaga kualitas, pergunakan kulit asli bukan sintentis," papar pria yang mengaku menerima warga yang ingin belajar membuat sepatu di Kotama itu secara gratis.
Dia juga berpesan, pemerintah terus membina UKM yang ada khususnya di Sumut. "Jangan hanya seremonial habiskan APBD, pembinaan UKM harus ada target begitu juga koperasi. Sekarang nggak dibina aja penghasilannya ada apalagi dibina," pungkasnya.(UKM05)