Berawal dari Traveling, Fani Rintis Usaha Fashion Hingga Buka Toko Sendiri
Diposkan: 21 May 2019 Dibaca: 1416 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Travelling ke luar negeri bagi Fani (42) warga Jalan Pancasila No 2 Medan Denai ini bukan hanya memuaskan hobinya yang suka berpelesiran, tetapi ia juga suka mengunjungi tempat-tempat yang ada surga belanjanya.
Ia mengaku di beberapa negara seperti Thailand terdapat tempat belanja fashion selain harganya murah juga berkualitas.
Saat ia bekerja di salah satu bank di Medan pada tahun 2015 lalu ia sering memanfaatkan cutinya untuk travelling ke luar negeri dan pada tahun itu ia mengaku bersama temannya travelling dengan rute Medan-Bangkok.
"Tahun 2015 saya pergi ke pusat perbelanjaan di Bangkok, di sana mata saya terbuka lebar. Bajunya bagus dan modis serta bahannya nyaman. Harganya juga gak terlalu mahal. Serta gak pasaran," ungkapnya kepada UKMKOTAMEDAN.COM, Senin (20/5/2019).
Dikatakanya, ia berniat membuka usaha karena setiap ia membawa baju dari Bangkok atau Thailand banyak tetangga dan kerabatnya yang suka dan membeli darinya. Hal inilah menginspirasinya membuka usaha. Selain itu, ia juga sudah berniat pensiun dini dari pekerjaannya di perbankan.
"Karena memang suka belanja akhirnya kepikiran mau buat usaha sendiri kalau sudah bosan jadi pegawai. Memang saya sudah minta pensiun dini dari kantor dan memang hobi dan kalau buka usaha sendiri kita yang atur waktunya," ujarnya.
Akhirnya tahun 2015, ia buka usaha tetapi masih di pinggir jalan dan memanfaatkan teras rumahnya. Ia fokus berjualan pakaian impor dari Thailand dan Bangkok. Dan diakuinya untuk fashion pakaian import ini ternyata memiliki pasar tersendiri.
"Kalangan menengah atas suka pakaian dari sana. Alasannya sama yaitu bahannya adem, murah dan modelnya tidak pasaran. Jadi saya akhirnya punya langganan tetap," paparnya.
Kemudian karena sudah tidak nyaman jualan di pinggir jalan, ia berniat ingin punya toko agar tidak capek mengangkat pakaian dan kerepotan jika hujan turun.
Dan pada tahun 2017, ibu dari 3 anak ini berhasil membuka toko di Jalan Pancasila, Medan Denai.
Di sini diakunya 80% pakaian impor dan 20 persen pakaian lokal. "Saya memang fokus pakaian impor karena lebih banyak peminat. Kendala yang ia alami menjalankan bisnis pakaian impor ini hanya dikarenakan ketika biaya cukai naik, dan tiket pesawat naik," lanjutnya.
"Tetapi mau tidak mau saya harus berangkat ke sana meski tiket mahal. Sebenarnya bisa minta kirim saja tetapi saya tidak mau beli kucing dalam karung, tiba tiba barangnya yang sampai tidak sesuai ekspektasi. Biasanya saya pilih barang sendiri," ungkapnya.
Untuk produk fashionnya ia hanya membanderol mulai Rp100 ribu hingga Rp350 ribu. Ia berharap usaha ini dapat berkembang dan merambah ke produk fashion anak-anak. Agar tokonya ramai dan banyak pilihan konsumen. (UKM06)