Awalnya Untuk Mengisi Waktu Luang, Bolen Naffa Kithchen Kini Diminati
Diposkan: 25 Oct 2018 Dibaca: 1262 kali
UKMKOTAMEDAN.COM- Dalam memulai dan membangun bisnis, beragam motivasi yang mendorong seseorang tertantang dan tertarik menggelutinya. Bahkan tidak sedikit pula yang terpaksa menjalaninya.
Termasuk Mursani Santi Sebayang, dia mengawali wirausaha demi membiayai pendidikan tiga orang buah hatinya, setelah menyandang status janda enam tahun lalu. Selain untuk bertahan dan memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya, usaha ini juga untuk mengisi waktunya dengan cara yang bermanfaat.
Nani sapaan akrab Mursani Santi Sebayang, dia memulai membuat bolu dengan bahan baku satu kg, sekira tiga tahun silam. Dia membuat bolu, setelah mengikuti pelatihan membuat kue yang diadakan Bogasari.
Usaha tidak percuma, dari satu kilo tepung tersebut dia berhasil mengolahnya menjadi tujuh kotak bolu yang siap dipasarkan. Dari sini, secara perlahan dia memulai memperkenalkan bilu buatnya. “Setelah itu, pelan-pelan mulai dapat pesanan," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Nani mengaku terus belajar dan mengembangkan usaha yang dirintis dengan modal Rp 500 ribu itu. Dengan semangat dan kegigihannya, produknya tidak hanya sebatas bolu saja, namun semakin beragam dan bervariasi, salah satunya bolen. Produk tersebut, kini sebagai inovasi best sellernya.
Khusus untuk bolen, Nani memasarkannya mulai harga Rp 50.000 per kotaknya."Produk kita itu ada beragam. Selain bolu, bollen ada juga brownies. Setiap hari selalu buat. Tidak hanya itu, kita ada juga membuat kue basah," ujarnya.
Dalam membangun usaha tersebut, akunya tidak selalu berjalan mulus. Karena sebagai produk makanan tidak tahan lama. Bahkan sebelum memulai usaha ini, dia sempat belajar menjahit. Namun karena usia, dia mengaku tidak bisa mengaplikasikan ilmu menjahitnya, karena bukan bidangnya.
Sehingga kini, Nani fokus untuk membangun dan mengembangkan usaha bolu dan bolen produksi rumahan ini. “Memang kapasitas produksinya masih belum banyak. Tapi, Alhamdulillah, setiap hari tetap berproduksi,”ujarnya, dan rata-rata mencapai 5 kg bahan baku setiap harinya. (UKM01)