Awalnya Tak Bisa Masak, Kini Sarah Sukses Merintis Crunchy Banana Medan
Diposkan: 13 Oct 2018 Dibaca: 2013 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Kenali potensi diri dan jalankan. Moto itu tertanam pada diri Sarah Agnestika (22 tahun) sejak lama.
Itu pula yang membuatnya meraih kesuksesan di usaha bidang kuliner. Tiga gerai Crunchy Banana Medan sejak hampir setahun dia pimpin meraih kesuksesan.
Sarah mengaku, kesukaannya untuk berbisnis memang sudah sejak lama. Mulai usaha jualan pakaian yang dia pasok dari Bangkok, Thailand dia lakoni. Namun, sulitnya prosedur yang harus dijalani belakangan hari, membuatnya memutuskan menghentikannya.
"Lalu saya mencari apa ya usaha yang cocok untuk dijual dan modalnya nggak gede? Saya lalu memutuskan mencoba olahan pisang. Coba cari resep di YouTube, Google, itu mulai bulan Juni 2017, intinya bagaimana supaya produknya enak. Tapi pas dicoba malah nggak enak. Apa lagi memang Sarah nggak bisa masak," ujarnya saat berbincang belum lama ini.
Namun, akhirnya anak kedua dari tiga bersaudara itu tahu cara agar pisang olahannya itu enak. Tidak dengan dikukus seperti saran resep pencariannya di internet, namun dengan digoreng seperti pisang goreng pada umumnya.
Sebagai pelengkap agar pisang goreng lebih enak, dia lalu mencoba berbagai topping. Sayangnya, harga modalnya terlalu mahal. Terus mencari, dia lalu akhirnya mendapatkan bahan coklat yang harganya terjangkau namun rasanya enak, tetapi dengan diolah lagi.
Punya resep enak, iseng-iseng, dia mendesain logo memanfaatkan telepon pintar (smartphone) miliknya dengan mengunduh sejumlah aplikasi. Hasilnya didapat logo. Dia pun lalu memesan kotak kemasan dengan mencantumkan logo hasil kreasinya. Praktis, di awal, dia hanya mengeluarkan modal sebesar Rp1,5 juta.
"Awalnya cuma buat satu bal kotak isinya 500 lembar. Lalu saya inisiatif jual makanan itu di kampus pakai mobil waktu semester lima, lalu saya buat akun Instagram (Crunchyroll Banana Medan). Pertama pelanggannya dari teman dulu, lalu mereka coba posting di Instagram mereka. Pelanggan bertambah, saya lalu buka orderan, ajak teman-teman kampus karena semakin kewalahan, pesanan mulai banyak, 50 kotak satu hari," ucap mahasiswa semester VII, Fakultas Hukum, Program Studi (Prodi) Hukum Perdata, Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.
Belum puas, putri pasangan Benny Sihotang dan Dame Duma Sari Hutagalung tersebut memutuskan untuk menghentikan usaha di kampus dan membuka usaha di rumah ibunya di Komplek Griya Riatur Blok D No 6 Medan.
Namun sebelumnya, dia mendaftarkan produk Crunchy Banana ke perusahaan jasa antar makanan milik ojek online Grab dan Go-Jek. Langkahnya berhasil, konsumen semakin bertambah. Sayangnya, prosedur keluar-masuk komplek yang agak ketat membuatnya harus memikirkan pindah ke tempat lain sembari mengurusi label halal.
"Saya sempat nggak mau pindah, takut langganan malah akan menurun. Apalagi kan orang gak boleh sembarangan masuk ke dalam komplek. Tapi akhirnya saya memutuskan pindah ke ruko yang kebetulan punya mama di Jalan Kapten Muslim, bulan November 2017. Pelanggan malah semakin ramai. Saya sampai disarankan buka di tempat lain," ucap Sarah.
Dengan keuntungan yang dia kumpulkan, Sarah memutuskan buka cabang di kawasan Medan Marelan, Februari 2018. Tidak di situ saja, membayar susa kontrak ruko (over contrast) dengan pedagang mie Aceh di Jalan Setia Budi, dia lalu membuka gerai cabang baru sebulan setelahnya, Maret 2018.
Karyawan pun semakin bertambah. Saat ini 16 orang dia pekerjakan di tiga tokonya. Dari tiga gerai tersebut, rata-rata 700 kotak per hari laku terjual. Toko di Marelan paling sedikit laku yakni 100 kotak per hari.
Pemesanan kotak kemasan pun semakin banyak. Hampir setiap pekan, dia memesan 10 ribu kotak. Untuk pisang, setiap 1000 sisir pisang kepok yang dipesan, biasanya ludes dalam waktu lima hari. Namun lantaran sudah bekerja sama dengan agen, Sarah mengaku tidak kekurangan bahan baku. Jika untuk tiga gerai dia mempekerjakan 15 karyawan, untuk pematangan pisang, Sarah juga mempekerjakan dua orang yang bekerja di tempat penyimpanan di rumah ibunya di Komplek Griya Riatur.
Kini, Sarah mengaku dalam sebulan, omset dari tiga gerainya bisa mencapai Rp300 juta sampai Rp400 juta. Soal keuntungan, gadis muda itu bisa mengantongi keuntungan minimal Rp150 juta. Bahkan, Crunchy Banana miliknya menjadi top 25 makanan paling laris di Kota Medan jika dilihat dari banyaknya pesanan lewat Go-Jek.
Dari empat varian rasa dan aneka topping uang ditawarkan Crunchy Banana, Sarah mengaku rasa coklat dan coklat keju jadi yang paling laris. Sementara untuk harga produk, dibanderol mulai Rp26 ribu hingga Rp31 ribu.
Lantas apa yang membuat makanannya enak?. Menurut Sarah pelanggan suka karena tekstur pisangnya yang tidak lembek, dengan varian dan aneka topping yang ada. Apa lagi kata dia, pelanggannya tidak hanya sekadar datang dan beli, namun juga kembali membeli (buy back) yang menjadi acuan bahwa pelanggan cukup puas dengan produk yang ditawarkan.
Tidak puas sampai di situ, Sarah mengaku akan terus berinovasi. Selain itu, dia juga berencana membuka gerai baru kendati tidak dalam waktu dekat. Tidak cuma itu, dua bercita-cita untuk mendirikan tempat makan yang berbeda, bukan pengembangan dari produk Crunchy Banana miliknya.
"Mau buka tempat makan tapi nabung dulu. Memikirkan Sarah itu gak bisa satu aja karena gak tahu pasang-surutnya seperti apa," pungkasnya.(UKM05)