Awalnya Isi Waktu Luang, Kini Watukawat Diminati hingga Luar Negeri

Awalnya Isi Waktu Luang, Kini Watukawat  Diminati hingga Luar Negeri
Susi Haryati

Diposkan: 09 Sep 2018 Dibaca: 1251 kali


 
 
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Sebagai pelengkap fashion, baik wanita maupun pria, aksesoris menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tak ayal, peluang usaha progresif tersebut dilirik banyak pihak, dari yang standar, hingga sedikit nyentrik.

Salah satunya, aksesoris berlabel "Watukawat" milik Susi Haryati (32 tahun). Bukannya membuat aksesoris dari bahan yang cukup lazim, ibu satu anak ini memilih bahan kawat tembaga dan batu akik "Druzy" namun dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi barang bernilai seni tinggi.

Kepada UKMKOTAMEDAN.COM, perempuan asal Yogyakarta menceritakan, bermodal kursus singkat (short course) saat masih tinggal di Jogjakarta, keterampilannya itu akhirnya dimanfaatkan menjadi sebuah usaha sejak empat tahun silam setelah tiga tahun dia dan keluarga hijrah ke Medan.

"Watukawat ini full handmade, pakai batu Druzy, saya bikin aksesoris dari mulai kalung, cincin, gelang, bros. Jadi satu desain hanya akan ada satu aja. Sudah sejak 4 tahun lalu. Awalnya hobi, karena kerjaan utama ibu rumah tangga," ujar Susi, Sabtu (8/9/2018).

Keahlian mendesain kawat tembaga  sebagai pengikat batu cantik tersebut  membuatnya menjadi pengajar darmawanita di kawasan Binjai. Dari situ, namanya mulai dikenal. Untuk pemilihan nama Watukawat yakni dari kata watu yang berarti batu dan kawat, agar sisi etnik produk tersebut terlihat. "Karena saya asli Jogja, jadi supaya lebih berasa jawanya," kata dia.

Soal pemilihan Druzy sebagai "mata" aksesoris, menurut istri dari Tonny Katiwa (37 tahun) itu, karena keindahan lantaran memiliki motif pecahan kristal di dalamnya dan dipasok dari Pacitan, Jawa Timur. "Tapi kalau ada konsumen yang minta diikatkan dengan batu lainnya juga boleh. Kendati saya mengutamakan batu Druzy karena batu alam dan cuma ada satu (corak) setiap harinya. Harga barunya mulai dari Rp30 hingga ratusan ribu rupiah," ucapnya.

Cukup banyak waktu luang setelah anaknya yang bersekolah di salah satu full day school di Kota Medan, membuatnya punya cukup waktu luang untuk menyalurkan bakatnya itu.

Susi setiap hari berkreasi sendiri. Mulai membuat aksesoris simpel hingga dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dia kerjakan, desainnya mengalir berdasarkan suasana hati (mood). Dari hasil kreatifitas bernilai tinggi tersebut, dia tidak sungkan untuk membanderolnya dengan nilai yang dirasa sesuai. "Harganya mulai dari Rp200 ribu hingga jutaan. Tergantung tingkat kerumitannya," ucapnya.

Saat ini, hasil jerih payahnya mengantarkannya meraup keuntungan lumayan, Rp5 juta hingga Rp10 juta tiap bulan. Selain pemasaran dari mulut ke mulut, banyaknya e-commerce bermunculan, memudahkannya untuk memasarkan produk kreasinya tersebut.

"Awalnya dari mulut ke mulut orang tahu dan datang atau telpon untuk pesan. Sekarang kan banyak e-commerce, jadi cukup membantu saya memasarkannya," beber dia lagi.

Berkat e-commerce, konsumen yang berminat tidak hanya dari dalam negeri.  Warga negara lain macam Bangkok, Hongkong hingga Australia memesan Watukawat. "Ngirim barang ke luar negeri kayak Australia, ke Bangkok dan Hongkong via pos. Memang cukup lama (barang sampai), ada yang sampai tempat sekitar dua minggu. Mereka confirm bahwa barangnya sudah sampai," ucapnya.

Beragam koleksi cantik Watukawat bjaa dilihat di akun instagram @watukawat_soeshe. Sementara habg berminat, bisa memesan ke nomor Whatsapp +6281370930086.

Tidak hanya Watukawat, Susi berencana ingin membangun sebuah merek lain, kendati dia belum beberkan jenis produk yang akan dia pasarkan nantinya. "Ke depan ingin membuat brand baru, masih coming soon," pungkasnya.(UKM05)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved