Awalnya Hanya Keripik Pisang, Kini Susilawati Miliki Brand Sendiri

Awalnya Hanya Keripik Pisang, Kini Susilawati Miliki Brand Sendiri

Diposkan: 29 Sep 2018 Dibaca: 2010 kali


 

UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Kalau menyebut kata keripik pisang, mungkin di pikiran sebagian orang terlintas jenis makanan ringan yang terbuat dari pisang yang diiris tipis-tipis dan digoreng, renyah bila dimakan. Tak ada kesan spesial dari makanan jenis ini, namun tidak begitu bagi Susilawati (34 tahun).

Dengan merk Dea Snack, Ibu dua anak ini berinovasi dengan makanan tradisional tersebut. Tidak lagi hanya sekadar keripik, usaha yang dia rintis sejak Februari 2015 silam itu punya ciri khas tersendiri.

Kepada ukmkotamedan.com, dia menceritakan, seperti orang merintis usaha pada umumnya, awalnya dia memang hanya membuat keripik pisang seperti yang biasa ditemui di mana-mana. Namun, selanjutnya, bersama dengan produk makanan jenis lain yang juga dia produksi, akar kelapa, sejumlah inovasi dilakukan.

"Nama Dea Snack itu dari nama anak saya paling kecil. Setelah usaha itu  berjalan, Saya kebetulan ikut pelatihan-pelatihan UKM di kelurahan, temanya pengembangan usaha. ada kue basah, kue kering. Atas saran teman-teman juga, lalu saya inisiatif untuk membuat keripik pisang dan akar kelapa aneka rasa," ujarnya, Jumat (28/9/2018).

Keripik pisang rasa balado, ayam panggang, coklat, serta kue akar kelapa, aneka rasa seperti keju, manis, asin dan seafood selanjutnya menjadi produk unggulannya. Tetapi, namanya produk "baru", yang masih belum familiar, masih sedikit orang yang tahu.

Untuk memperkenalkannya ke masyarakat, sejumlah cara konvensional dia tempuh. Yakni dengan menjajakannya ke berbagai tempat. Setelah tiga bulan menjalankannya, perkembangan dirasakan. "Awalnya sulit memasarkannya, namanya UKM baru, belum ada izin, agak susah penjualan.  Jadi saya mulainya dari warung ke warung, kios, sekolah, titip sana ke mari. Alhamdulillah, peminat mulai banyak. Saya lalu titip ke dinas-dinas, kantor. Sekarang produk saya titip di gerai UKM Dinas Ketahanan Pangan," ujarnya.

Dea Snack yang telah mengantongi sertifikat halal dan izin usaha P-IRT yang dalam proses pengesahan, terus berinovasi. Saat ini, perempuan yang biasa disapa Susi itu juga membuat akar kelapa rasa seafood atau udang. Berbeda dengan produk lain yang selalu tersedia, untuk rasa seafood, dia mengaku akan memproduksi jika ada pemesanan untuk menjaga kesegaran dan kesehatan produk, katanya.

"Kalau rasa udang tunggu ada pesanan banyak lalu langsung diproses karena kalau lama takut tidak enak. Walaupun mungkin saya drop ke toko, saya akan tarik seminggu setelahnya," ucapnya.

Dengan rumah produksi di Jalan Bunga Terompet Sempakata, Medan Selayang, Susi dan tiga karyawannya memproduksi produk Dea Snack. Menurutnya, produk yang diproduksi cukup sehat lantaran tidak memakai bahan pengawet dan perasa yang tidak layak dipakai dalam produk makanan.

Selain itu, dia juga menjaga cara pengolahan tetap baik. Salah satunya dengan menggoreng menggunakan minyak goreng kemasan plus margarin untuk menambah rasa gurih. Sementara itu, untuk kemasan, dua mengatakan menggunakan plastik standing pouch.

"Kalau dari badan POM dan MUI, produk harus yang layak dijual dan dikonsumsi.
Kalau kemasan yang dipakai menurut standar BPOM harus tahan kelembapan. Ada kode produksinya,"

Untuk plastik kemasan saja, dia mengaku dua kali sebulan harus bolak-balik membeli dengan jumlah tertentu di Jakarta Kruing Medan. Apa lagi, plastik tidak bisa disimpan dalam waktu lama. Singkat kata, dia hanya membeli plastik dengan jumlah yang dibutuhkan.  

Selain akar kelapa rasa udang yang hanya tahan sekitar sepekan, produk lainnya juga dia hanya beri waktu edar selama tiga Minggu kendati dengan kemasan bakk. Kata Susi, untuk keripik pisang dan akar kelapa sebenarnya bisa dikonsumsi lewat tiga pekan, namun untuk menjaga kualitas, dia biasanya langsung tarik dari peredaran jelang akhir pekan ketiga produk beredar.

"Kalau keripik pisang tanpa bahan terlarang tahan tiga minggu. Tapi  sebelum tiga minggu saya tarik dari peredaran. Menjaga kualitas. Syukurnya tidak banyak yang saya tarik. Misalnya kalau saya drop 20 bungkus, yang tidak laku tiga atau empat," ungkapnya.

Dalam seminggu kata Susi, dia memproduksi hingga tiga kali dengan  40 Kg bahan baku keripik pisang dan 50 Kg untuk akar kelapa sekali produksi. "Karena banyak yang minta di swalayan juga.  Sementara akhir tahun atau Idul Fitri, kenaikan penjualan bisa naik sekitar 50%. Tapi memang, kalau libur sekolah atau libur perkantoran, penjualan cukup sepi," ucap perempuan yang juga menjual makanan Ayam Geprek Amel, nama aanak sulungnya, di kawasan rumahnya.

Dari keripik dan akar kelapa saja, hasil yang didapat cukup lumayan. Setelah membayar gaji tiga karyawan dan lainnya, dia mengaku mengantongi keuntungan hampir Rp3 juta sebulan.

Tidak lantas puas dengan hasil yang didapat, ke depan Susi juga berencana membuat snack atau kudapan jenis lain.  "Ke depan mau buat makanan lain. Tetap kayak akar kelapa tapi kecil, jadi namanya akar pinang," katanya

Untuk promosi di dunia maya seperti di e-commerce atau internet marketing setelah izin P-IRT milik usahanya terbit.(UKM05)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved