Awalnya Bantu Ekonomi Keluarga, Olahan Salak Ini Kini Beromzet Jutaan
Diposkan: 06 Oct 2018 Dibaca: 1042 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA –Buah salak yang lekat dengan cita rasa manis dijadikan Shelly, perempuan asal Bekasi menjadi hidangan anti mainstrem, yakni sambal.
Perempuan 47 tahun ini, awalnya membangum bisnis ini karena ingin memiliki usaha sendiri yang inovatif dan bermanfaat, terutama untuk membantu perekonomian keluarganya.
Pertama kali merintis usaha rumahan ini sekira tahun 2016 silam, inovasi salak yang dihadirkan Shelly berbentuk brownies dan kue kering. Namun, pelanggannya malah meminta olahan salaknya dibuat jadi produk lain.
"Sebenarnya kan kalau pas awal, Salaku itu baru di brownies dan kue-kue, berjalan dari waktu ke waktu ternyata malah permintaan dari pasar itu ingin (olahan) yang gurih-gurihnya, akhirnya saya berpikir kenapa tidak dibuat sambal,” ujar Shelly dikutip dari Kompas.com, Sabtu (6/10/2018).
Pemilik usaha Salaku ini pun kemudian berusaha mengenalkan produknya ke publik, mulai dari rekan terdekat hingga mengukuti pameran dan kompetisi tentang kewirausahaan.
"Kita itu basisnya rumahan, saya juga ibu rumah tangga yang sedang dalam kondisi kesulitan ekonomi sebenarnya, sedang survive untuk bantu perekonomian keluarga pada awalnya. Akhirnya dulu kita mulai usaha dari yang ada di rumah saja. Kebetulan anak saya yang bungsu ini suka makan salak, jadi kepikiran dari sana juga,” tutur salah satu peserta Top 20 The Big Start Indonesia ini.
Penjualan Salaku saat ini melalui kanal online melalui e commerce dan marketplace, sedangkan kanal penjualan offline ada di beberapa hotel dan toko oleh-oleh di Bekasi.
"Setelah saya kenalkan ke media sosial responnya bagus, terus akhirnya saya pasarkan, (pelanggan) cocok dan repeat order. Terus nambah seiiring waktu berjalan. Dari sana saya mulai upgrade peralatan untuk produksi agar lebih besar," cerita Shelly.
Shelly kemudian menjelaskan, buah salak memang benar-benar bisa dijadikan sambal. Namun, ada teknik khusus yang mesti dilakukan.
Pertama, harus mengenali dulu karakter salaknya.“Kalau dibuat sambal, salaknya dipotong-potong. Bahannya dari rawit merah, tanpa cabai keriting dan bawang putih dan ditambahkan ebi. Ketika melewati proses pemasakan, rasa manis salaknya akan berkurang sebenarnya, tapi akan muncul rasa khas. Pas sudah jadi akan ada perpaduan pedas, gurih dengan potongan salak yang sudah kita masak,” jelas ibu tiga anak ini.
Beda halnya dengan sambal, untuk hasil olahan lain seperti brownies dan cookies tentu berbeda pula pengolah dasar buah ini. Misal untuk cookies, buah salak harus diolah menjadi selai terlebih dahulu. Agar menghasilkan cookies yang renyah ketika dimakan.
"Kita kuasai dulu karakter salaknya. Kalau dimasukkan ke sambal gimana, kalau untuk cookies gimana. Kalau cookies kan memang harus kering, jadi agar tetap renyah kita jadikan selai dulu, kita olah,” papar Shelly.
Kini ia pun sudah bisa mengolah buah salak hingga 1 karung atau 30 kg dalam seminggu. Dari 30 kg buah salak ini bisa disulap menjadi beragam hidangan, mulai dari brownies, cookies, pralin (coklat isi selai salak) hingga sambal salak sendiri.
Memulai bisnis nyaris tanpa modal, kini omzet yang didapatnya berkisar kurang lebih Rp 5-10 juta per bulan bergantung musim. Sebagai produk rumahan yang belum banyak orang kenal, tantangan bagi dirinya adalah agar orang familiar dengan produk-produknya ini.
"Karena produk ini belum banyak dikenal, tantangannya adalah mengenalkan. Orang juga pasti bertanya memang bisa salak dibuat brownies? Dibuat sambal? Awalnya pasti anggap aneh, ini yang mesti dikenalkan. Banyak orang belum familiar dengan produk-produk ini," ujar pemilik akun instagram @salaku_olahansalak ini.
Kedepan, Shelly memiliki mimpi olahan salak miliknya menjadi oleh-oleh khas Bekasi. "Saya pengen menjadikan produk salakku ini produk unggulan ukm bekasi yg bisa jadikan oleh-oleh khas. Saya berusaha mengenalkan, ini loh produk hasil usaha kecil menengah (UKM), bahwa ini nantinya jadi oleh-oleh khas Bekasi,”pungkas Shelly. (*/UKM01)
Sumber : Kompas.com