Astina Kenalkan Sirup dan Kudapan Berbahan Buah serta Daun Mangrove
Diposkan: 04 Oct 2018 Dibaca: 1368 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Seperti diketahui, hutan mangrove mempunyai manfaat yang besar untuk kelestarian alam. Tapi selain manfaat tersebut, hutan mangrove dengan berbagai tumbuhan di dalamnya ternyata mempunyai manfaat lain yang belum banyak orang tahu.
Tumbuhan mangrove ternyata bisa diolah untuk bahan makanan dan minuman. Astina Hutabarat (44 tahun) merupakan satu dari sedikit wirausahawan yang mengolah tumbuhan mangrove yang dalam bahasa latin disebut Sonneratia, Bruguera dan Rhizopora sebagai bahan makanan.
Bahkan, ibu dua anak itu kini sudah memproduksi makanan dan minuman olahan dari tumbuhan mangrove sejak dua tahun lalu untuk dijual serta melabeli usahanya dengan merk Dapur Mangrove sejak setahun lalu. Kepada ukmkotamedan.com dia menceritakan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Yagasu menjadi pihak yang mengenalkannya dengan makanan olahan mangrove.
"Pernah dilatih sama orang Yagasu, mereka undang pelatih untuk mengajari kami mengolah buah dan daun mangrove sebagai makanan olahan. Dari situ saya tertarik mengembangkan di daerah saya, kebetulan tidak jauh dari pantai Laut Belawan," ujarnya, Kamis (4/10/2018).
Sirup, kue bawang, peyek, dodol dan nastar kata dia bisa diolah dari tumbuhan mangrove. Selain itu, kata Astina, banyak lagi makanan olahan yang bisa dibuat dari tumbuhan mangrove. "Untuk sirup diolah dari buah mangrove namanya Perepat, mirip jambu biji. Dikupas, diambil dagingnya direbus, baru diblender dan diperas lalu ditambahkan Rosela sebagai pewarna sirupnya
Sisa perasannya dimasak lagi untuk dijadikan selai nastar. Nggak ada yang terbuang. Sementara bijinya kita olah jadi tepung sebagai tambahan untuk tepung buat kue apa aja. Buah api-api dipakai bikin dodol, sementara daun juruju untuk buat peyek dan kue bawang pengganti daun jeruk yang biasanya dipakai," beber istri dari Jefri Aritonang (45 tahun itu).
Untuk bahan, dia mengaku cukup mudah mendapatkannya kendati untuk buah Perapat dia harus mengupah nelayan untuk mengambilnya dari hutan mangrove yang dibayar Rp7 ribu setiap kilonya. Sementara daun Juruju didapat cukup mudah lantaran tersedia di sekitar kawasan tempat tinggalnya.
Untuk pemasaran dia mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan. Bergabung sebagai binaan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Medan setahun lalu, produk Dapur Mangrove lantas masuk di gerai UKM milik dinas tersebut sejak 2017 atau sekitar setahun lalu.
Astina yang beralamat di Jalan Hidayah, Lingkungan IV Belawan Sicanang Medan Utara mengatakan, pemberian merk, kemasan dan kelengkapan izin seperti P-Irt dan label halal membuat produknya jadi lebih dikenali. Bahkan Rumah Zakat menjadikannya sebagai UKM Binaan.
"Respons dari masyarakat bagus juga, ada yang pengen buat pelatihan biar mereka tahu. Saya kebetulan binaan Rumah Zakat dan buat pelatihan di situ. Untuk pemasaran keluar daerah belum. Kita masih titip di grosir dekat Martubung. Ada juga kawan dari Rumah Zakat titip di supermarket, udah tiga tempat dia titipkan," katanya.
Selama sepekan, untuk peyek dan kue bawang, dia melakukan produksi tiga kali seminggu, sedangkan untuk sirup dua kali dalam sebulan."Sirup di dalam botol berukuran 270 ml, kue bawang sama peyek ukuran 100 gram dan 200 gram. Peyek dan kue bawang yang sering kita kemas 100 gram dengan harga Rp10 ribu, sirup Rp15 ribu per botolnya," ucapnya.
Konsumen yang ingin memesan bisa menghubungi nomor telpon milik Astina yang juga sebagai nomor WhatsApp di 082167624626. Nomor telepon itu juga dia cantumkan di kemasan sirup, kue bawang dan peyek Dapur Mangrove miliknya.
Kendati belum sesuai harapan, keuntungan yang diperoleh Astina cukup lumayan, yakni sekitar Rp1,5 juta setiap bulannya. "Terus terang, pemasaran lnya masih kurang. Masih banyak yang belum tahu olahan mangrove ini," ungkapnya.(UKM05)