Angkat Kopi Petani di Kedai Ngopi

Angkat Kopi Petani di Kedai Ngopi

Diposkan: 01 Nov 2019 Dibaca: 1310 kali



UKMKOTAMEDAN.COM, PERKEMBANGAN usaha berbahan baku kopi masih menjadi tren. Banyak sekali bisnis, seperti kafe atau kedai yang menjajakan kopi.

Sejatinya, permintaan kopi yang terus meningkat akan sejalan dengan pendapatan petani, namun kenyataannya tidak begitu.

Sebut saja salah satunya kopi khas Simalungun sudah mendunia, sayangnya petani tak menikmati hasil panennya. Mirisnya, untuk minum kopi saja, mereka harus beli di pasar. Karena, hasil panen kopi mereka biasanya dijual dalam bentuk gabah ataupun coffee cherries (buah kopi).

Berawal dari keprihatian ini serta adanya permintaan petani untuk membantu memasarkan hasil perkebunan, menjadi ide awal hadirnya, Kedai Ngopi (Ngobrol Pintar) Simalungun Origins Coffee (SOC).

“Ini ide awalnya karena permintaan petani kopi dan keprihatinan atas mereka. Produksi kopi tapi tidak minum kopinya sendiri. Jadi berpikir bagaimana caranya biar mereka tahu minum kopi, tidak perlu ke kota dan mengeluarkan biaya besar. Kopi mereka bisa dinikmatinya,”ujar Owner Kedai Ngopi SOC, Iwayan Kirana disela-sela rangkaian kegiatan “Toba Coffee, Journalist  Expedition” yang digelar di 3 wilayah kabupaten, Karo, Simalungun dan Samosir,  di desa-desa petani kopi dampingan Bina Keterampilan Pedesaan (Bitra) Indonesia, baru-baru ini.

Dijelaskannya Kedai  Ngopi yang dibuka Desember 2018 ini, didirikan bersama tenaga penyuluh pertanian, para petani serta kolektor kopi. Tidak hanya sekedar menikmati kopi, warga juga bisa  belajar dengan bebas di Kedai Ngopi, baik soal budi daya kopi, proses rosting hingga menyeduh kopi.

Wadah ini juga menjadi tempat belajar bagi petani, perkumpulan kelompok tani. Hampir setiap bulannya selalu ada kegiatan yang digelar untuk mengenalkan kopi original ini. Selain itu, Kedai Ngopi ini juga menjadi salah satu pilihan melakukan pertemuan bagi aparat desa.

“Ini memang orginal, dari sini kopinya. Kita tidak mengambil dari luar, karena memang mau mengangkat kopi dari sini,”ujar Iwayan.

Pertama kali mengenalkan kopi ini,  Iwayan mengaku tidak mudah. Sebab masyarakat sudah terbiasa minum kopi pakai gula. Awalnya, masyarakat saat mengkonsumsi kopi justru merasa aneh. Namun, belakangan semakin terbiasa.

Di kedai tersebut, Iwayan menambah sejumlah petani sudah belajar proses penyeduhan. Mereka datang dengan membawa green bean masing-masing. "Kemudian disini dirosting dan mereka seduh sendiri,"sambungnya.

Hingga saat ini, SOC termasuk pioner warung kopi di daerah tersebut. Bahkan sudah ada beberapa anak muda yang mengukuti jejaknya. “Beberapa anak muda setiap malam Minggu datang kemari, beberapa bulan yang lalu sudah ada yang buka kafe seperti ini. Awalnya mereka belajar di sini. Kita disini juga buka open bar, jadi anak muda yang mau berkreasi, belajar sendiri, bikin sendiri,  setelah mereka bisa, mereka bebas buka usaha sendiri,”imbuhnya.

Hingga saat ini Iwayan yang juga merupakan peneliti hama kopi tersebut mengaku, memasok kopi sejumlah petani kopi binaan.

“Kebetulan saya bekerjasama dengan pembinaan petani kopi. Jadi mau tidak mau harus angkat kopi, nama besar kopi sudah mendunia. Tapi secara keseluruhan petani tidak menikmati. Jadi  kita coba mengangkat produk dari sini,”ujar pria berusia 35 tahun ini.

Dari usaha ini yang omsetnya Rp3 juta sebulan, dia memiliki impian untuk membentuk koperasi tani, yang terdiri dari gabungan berbagai kelompok tani

Selain memasarkan kopi di Kedai Ngopi Iwayan juga menerima sejumlah permintaan dari luar kota.  Seperti di beberapa kafe di Medan juga ada dari Bali. Namun untuk kapasitasnya masih terbatas, karena dia ingin menjaga kualitas. (UKM01)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved