Aling Perajin Manik-Manik, Keterbatasan Fisik Bukan Hambatan
Diposkan: 17 Aug 2018 Dibaca: 1194 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Tidak memiliki fisik yang sempurna bukanlah menjadi halangan untuk bisa hidup mandiri. Bahkan di tengah keterbatasan yang ada, tetap bisa berbagi dan peduli dengan sesama.
Aling warga Jalan Ternak Kecamatan Medan Polonia, adalah sosok yang sangat menginspirasi bagi banyak kalangan. Bagaimana tidak, perempuan berusia 44 tahun ini, tidak ingin mengantungkan hidup dengan orang lain. Bahkan dia terus berusaha bisa berbagi dan membantu orang lain.
Terlahir sebagai perempuan yang normal, Aling menyebutkan fisiknya bertumbuh tidak normal bermula saat satu tahun pernah demam dengan suhu badan tinggi. Kemudian dibawa berobat ke dokter oleh orangtuanya. Disini, Aling diberikan suntikan, berkisar tiga atau empat bulan kemudian, pertumbuhan Aling pun melambat.
Dia tidak bisa menggerakkan secara normal anggota tubuhnya terutama kedua belah tangannya. Hal ini, sempat membuatnya terpuruk. Hingga akhirnya, sekira 10 tahun lalu, gereja tempat dia beribadah membutuhkan biaya.
Dari sini, dia bertemu dengan temannnya bisa membuat kerajinan manik-manik. Kemudian dia bertanya, apakah bisa membuat kerajinan dengan menggunakan kaki. Selanjutnya, Aling diajak untuk survey Yayasan di Siantar, tempat dia belajar membuat manik-manik dengan berbagai produk kreatif.
“Awalnya, karena gak ada kerjaan. Suntuk dirumah. Saat itu, ada pelayanan di gereja dan butuh biaya. Kebetulan ada kawan ngajak, saya tanya saya bisa belajar buat manik-manik pakai kaki,” ujar Aling, Jumat (17/8/2018).
Kepada pihak Yayasan, Aling menuturkan dia juga tidak bisa mengurus diri sendiri. Namun semangatnya untuk belajar, direspon positif, dan dari pihak yayasan ada yang bisa membantu. Selama belajar, Aling mengeluarkan biaya sebesar Rp 1,5 juta perbulannya. Setelah mendapat izin dari abangnya, Aling pun belajar selama delapan bulan di Yayasan tersebut selama 8 bulan.
Selama belajar Aling mengaku tidak mudah untuk membuat sebuah karya manik manik. Maklum, Aling hanya menggunakan kedua kakinya untuk memasukkan manik-manik ke dalam benang nilon untuk menjadikannya sebuah karya.
“Pertama kali buat, itu gantungan kunci. Untuk satu barang, sampai satu bulan. Ini semuanya membuatnya pakai kaki,”ujarnya. Setelah belajar selama delapan bulan, Aling mengaku tidak langsung produksi. Namun setengah tahun kemudian, dengan modal Rp300 ribu, Aling pun mulai berkarya dengan manik-manik ini. Beragam produk dibuatnya, seperti tas, gantungan kunci, mangkok dan lainnya.
Semua karyanya ini dipasarkan melalui bazar dan juga di gereja setiap hari Minggu. Untuk harga yang ditawarkan bervariasi mulai Rp 5 ribu hingga 200 ribu tergantung jenisnya. Dalam membuat manik-manik ini, Aling juga memberdayakan 4 hingga 5 orang warga sekitar, dan anak-anak remaja berusia 13 tahun yang butuh penghasilan tambahan ataupun uang jajan.
Tidak hanya membuat kerajinan dari manik-manik, Aling juga menjual kue setiap hari minggu di gereja tempat dia beribadah Minggu. Karena untuk mengadalkan penghasilan dari manik-manik, Aling mengaku kesulitan, sehingga harus memiliki penghasilan tambahan untuk bisa bertahan.
Ditengah keterbatasan perempuan yang memiliki impian bisa naik pesawat ini, Aling mengaku bangga karena dia tidak bergantung saudaranya. “Bangganya , tidak minta sama abang-abang dan kakak. Bisa mandiri. Tidak minta lagi dan bisa bantu orang pelayanan di jalan dengan ngasi makan siang untuk orang jalana seperti orang gila,”ujar Aling sambil tersenyum . Bahkan tidak jarang juga, ada orang yang mau meminta pinjaman uang padanya, untuk memenuhi keperluan sehari-hari padahal kondisi fisiknya sempurna. (UKM01)