Agar Kembali Berbasis di Masjid, GMM Revitalisasi dan Rebranding Remaja Masjid
Diposkan: 31 Mar 2019 Dibaca: 1065 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN - Keberadaan masjid bagi remaja belakangan kurang menarik. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang memilih ruang publik untuk mengakutualisasi karakter serta jati dirinya.
Kondisi tersebut dinilai sangat rentan dan berbahaya bagi generasi muda. Jika dibiarkan, dapat mengancam ketahanan lingkungan, kota, propinsi, bahkan negara. Karenanya, melalui wadah Gerakan Muslim Millenial (GMM) remaja diajak kembali ke masjid untuk membangun peradaban.
“Remaja sebagai tulang punggung lingkungan dan umat sedang mati suri. Bahkan hampir diambang kepunahan. Kenapa? karena memang eksistensi dari remaja masjid dipertanyakan. Karena masjid tidak menarik bagi remaja,”ujar Ketua GMM, Syahlan Jukhri, Minggu (31/3/2019).
Syahlan menyebutkan, remaja yang bergabung dalam remaja masjid saat ini tidak lagi mengikuti pola kegiatannya. Semisal, yasinan, ceramah dan lainnya.
“Kalau pun dibuat, hanya bisa bertahan dua hingga tiga bulan saja. Abis itu bubar. Nah, ini kan menimbulkan pertanyaan, apa yang menjadi sumber masalahnya?,”ujarnya.
Didampingi Sekretaris Umum, Mukhlis, Wakil Ketua, Ahmad Fahmi Ajie dan Wakil Bendahara, Jalaluddin, Syahlan menyebutkan pergeseran nilai dan budaya yang tidak disadari, menjadi salah satu indikator. Apalagi gaya komunikasi dan kebiasaan generasi muda saat ini juga berbeda.
Kondisi ini menurutnya, tidak terlepas dari imbas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, komunikasi dan lainnya. “Sehingga menyebabkan pola hidup, budaya bergeser dan melahirkan karakter yang sangat berbeda dari kita-kita dulu. Ini yang tren saat ini generasi milenial,”imbuhnya.
Oleh karenanya, GMM yang berdiri Maret 2019 hadir untuk merevitalisasi generasi muda agar kembali mengakar di dan berbasis di masjid. Dengan menghadirkan fitur remaja masjid yang kekinian. Sehingga generasi muda, merasa nyaman ketika berada di masjid, agar tidak lagi mencari ruang publik untuk mengaktualisasikan jati dirinya.
“Fokus utama GMM merevitaslisasi dan membranding remaja masjid. Jadi sekarang perlu literasi agama, tanpa merubah konten ya. wadahnya juga dikembangkan kekinian. Ini menjadi tuntutan,”sambungnya.
Dakwah saat ini, sebutnya, tidak bisa lagi hanya menunggu di masjid. Namun harus jemput bola ke tempat pusat berkumpulnya generasi milenial, seperti kafe untuk kembali ditarik ke masjid.
“Kita jemput bola bukan untuk permanen disitu, di ruang publik. Namun pelan-pelan ditarik ke masjid. Karena memang fitrahnya gerakan peradaban Islam itu dari masjid. Dan itu yang dicontohkan Rasulullah, ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan membangun masjid dan membangun pasar di sekitar masjid,”ujarnya.
GMM ini sambung Syahlan memiliki program unggulan dibidang pendidikan, enterpreneurship, kepedulian sosial. “Mereka yang kelola,mereka yang menginisiasi. GMM, hanya fasilitator yang memfasilitasi dan mensinergikan dengan berbagai potensi yang ada untuk dituangkan dalam gerakan revitalisasi remaja mesjid,”pungkasnya.
Nantinya sambung Syahlan, jika program tersebut berhasil akan diduplikasi ke masjid-masjid lainnya di Kota Medan, bahkan hingga seluruh Indonesia. “Jika berhasil dari mesjid ini, kita duplikasi ke masjid lain, sampai ke seluruh Indonesia,” pungkasnya (UKM01)