Ada Unicorn PHK, Pertanda Musim Gugur Bisnis Startup?

Ada Unicorn PHK, Pertanda Musim Gugur Bisnis Startup?
net

Diposkan: 14 Sep 2019 Dibaca: 933 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA- Bukalapak beberapa hari lalu mengumumkan efisiensi perusahaan dengan pemangkasan jumlah pegawai. Efisiensi dilakukan agar perusahaan bisa menjadi startup yang memperoleh keuntungan. Namun, kondisi tersebut dinilai sebagai dampak ketatnya persaingan bisnis di era digital.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menjelaskan dengan melambatnya kondisi ekonomi global yang mempengaruhi suntikan dana dari investor fenomena 'goyang' nya startup berstatus unicorn merupakan suatu keniscayaan.

"Ada musim semi dan akan ada musim gugur. Sebagian besar startup akan kalah bersaing dan akan tutup tetapi mereka akan digantikan oleh startup baru," kata Piter dilansir dari detikFinance, Jumat (13/9/2019).

Dia menjelaskan, hal ini merupakan proses alami yang tak perlu digaduhkan. Sementara itu peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan hal ini merupakan peringatan untuk pemerintah yang menjadi pengambil kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi.

"Ini warning, sektor ritel kan di ujung dari rantai pasok. Artinya pemerintah perlu memperhatikan jangan-jangan di hulunya sudah lama terjadi PHK diam-diam," kata Bhima.

Dia mengungkapkan kondisi ini bisa mendorong pelemahan daya beli dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Bhima, PHK yang terjadi di Bukalapak mematahkan teori bahwa shifting besar-besaran dari konsumsi ritel konvensional ke ritel online.

Faktanya, menurut Bhima sama-sama berat baik pemain konvensional maupun online. "Konsumsi rumah tangga memang rendah yakni di kisaran 5%, kemudian kelas menengah dan atas yang tadinya diandalkan untuk mendorong konsumsi akhirnya terpaksa menahan belanja," jelas dia.

 

Sementara Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali menilai pemerintah harus memperkuat digital talent. membantu industri digital agar tetap berkembang dan bertahan.

"Indonesia seperti negara lainnya yang mengalami shortage digital talent dalam jumlah besar. Maka perlu cara baru dalam pendidikannya seperti sekolah vokasi digital," kata Rhenald saat dihubungi detikcom.

Dia menjelaskan dalam bisnis digital istilah patah hilang tumbuh berganti akan terus ada. Namun sepanjang infrastruktur terus diperkuat, pemerintah tak perlu khawatir karena akan ada terus bisnis-bisnis online baru yang kompetitif dengan bisa menjadi unicorn.

Kemudian juga harus ada upaya untuk mendorong usaha digital menjadi pemain global. Seperti GoJek contohnya.

"Pemerintah juga harus mendatangkan investor seperti venture capital dan angel investor agar pembiayaan dan mentorship terus tumbuh," jelas dia.

Terakhir, harus diwaspadai masuknya startup asing yang menyerang pasar Indonesia tanpa membangun superpartisipan dan ekosistem di sini.

Rhenald menambahkan, Bukalapak merupakan unicorn yang didanai investor lokal yakni Emtek Grup. Di tangan Emtek, Bukalapak justru sedang mengalami peningkatan kinerja keuangan yang signifikan.

Memang, ada hal-hal yang perlu dilakukan mengingat startup yang dikelola oleh anak muda dan pelaku usaha baru yang kurang pengalaman memang sangat agresif dalam mendapatkan order atau sales.

"Sedangkan cost nya sering kali terabaikan sehingga bisa kurang efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, memang sangat diperlukan mentor dan investor yang concern, apalagi cukup banyak perusahaan startup yang di awal kurang memperhatikan efisiensi itu," jelas dia.

Menurut dia inisiatif peningkatan efisiensi yang dilakukan Bukalapak tak boleh membatasi ruang inovasinya. Apalagi Bukalapak masih punya jejak sebagai pelopor dalam terobosan inovatif yang ada saat ini.

Contohnya, Bukalapak merupakan market leader dalam pengembangan Mitra Bukalapak dan BukaMart di mana jaringan Bukalapak saat ini sudah hampir mencakup 1 juta warung di seluruh Indonesia. Angka ini merupakan jumlah yang signifikan.

Terakhir, Rhenald menambahkan yang harus diperhatikan pemerintah saat ini Bukalapak merupakan satu-satunya unicorn Indonesia yang kepemilikan mayoritas sahamnya masih dimiliki oleh individu dan perusahaan Indonesia.

"Inilah yang perlu kita cermati antara flow of investment yang dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi dengan level of competition untuk mengedepankan perputaran uang di kalangan pengusaha domestik," imbuh dia.

Untuk diketahui, Bukalapak merupakan salah satu cucu perusahaan yang dimiliki EMTK melalui anak usahanya, PT Kreatif Media Karya (KMK). KMK merupakan pemegang saham utama Bukalapak dengan porsi kepemilikan saham sebesar 35,17%. EMTK sendiri memegang hampir seluruh porsi kepemilikan saham KMK atau sebesar 99,99%.

Emtek diketahui masuk ke Bukalapak melalui pendanaan seri B. Pemilik stasiun televisi SCTV ini masuk Bukalapak sebagai Lead Investor lewat KMK Online pada Februari 2015 yang juga bersamaan dengan 500 startup.

Bukalapak merupakan perusahaan e-commerce yang menyandang status unicorn. Hari ini tersiar kabar di beberapa media yang menyebutkan startup ini melakukan PHK sebagai salah satu langkah restrukturisasi. (*)

Sumber : detikFinance

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved