2019, Ekspor Batik Ditarget Naik 8 Persen
Diposkan: 08 May 2019 Dibaca: 1069 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA- Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor batik nasional tahun 2019 meningkat 6 hingga 8 persen dibandingkan priode 2018 yang tercatat sebesar USD52,44 juta atau setara Rp734 miliar (kurs Rp14.000 per USD).
Selain itu, Kementerian Perindustrian terus berkontribusi dalam upaya pelestarian batik Nusantara serta mendorong pengembangan industri batik nasional agar lebih berdaya saing global.
“Batik menjadi identitas bangsa yang semakin populer dan mendunia. Industri batik juga memiliki peran penting bagi perekonomian nasional serta menjadi penyumbang devisa negara, karena memiliki pasar ekspor yang besar seperti di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (8/5/2019).
Industri batik sebutnya, turut mendorong pertumbuhan gemilang di sektor industri tekstil dan pakaian jadi. Dimana pada triwulan I tahun 2019, mencatatkan posisi tertinggi dengan capaian 18,98 persen. Kinerja ini melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen di periode yang sama.
“Saat ini, batik telah bertransformasi menjadi berbagai bentuk fesyen, kerajinan dan home decoration yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Airlangga.
Untuk itu, Kemenperin terus mendorong peningkatan produktivitas dan perluasan pasar bagi industri batik nasional. Apalagi industri batik menjadi salah satu sektor yang banyak membuka lapangan pekerjaan. Penyelenggaraan GBN ini dilaksanakan mulai 8 hingga 12 Mei 2019 dengan tema “Lestari Tak Berbatas”.
Dalam kesempatan yang sama Airlangga menyebutkan, saat ini industri batik mulai memperkenalkan bahan baku baru seperti dari serat rayon atau memanfaatkan biji kapas. Dengan material baru ini akan menghasilkan produk yang lebih menarik dan kompetitif. Selain itu, penggunaan zat warna alam pada produk batik juga merupakan solusi dalam mengurangi dampak pencemaran dan bahkan menjadikan batik sebagai eco-product yang bernilai ekonomi tinggi.
Pengembangan zat warna alam sambungnya, dinilai turut mengurangi importasi zat warna sintetik. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. Batik warna alam hadir menjawab tantangan tersebut dan diyakini dapat meningkatkan peluang pasar.
“Untuk itu, saya mengimbau kepada seluruh perajin dan pelaku usaha batik yang hadir di sini untuk terus mengeksplorasi potensi zat warna alam yang kita miliki, sehingga dapat memperkaya ragam batik warna alam Indonesia, termasuk motifnya. Selain itu juga adanya kolaborasi desain, yang seperti memadukan dengan tenun,” imbuhnya.(*/kemenperin)