Sempat Bangkrut, Handy Eng Fokus Sukses dengan Ikan Sale

Sempat Bangkrut, Handy Eng Fokus Sukses dengan Ikan Sale

Diposkan: 22 Oct 2017 Dibaca: 703 kali


UKMKOTAMEDAN.COM-MEDAN

Ikan sale, sangat identik dengan salah satu daerah di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan. Namun jangan salah, belakangan ini banyak produk ikan sale terutama dengan bahan baku lele yang ternyata di produksi, tidak jauh dari Kota Medan, Serdangbedagai.Adalah Handy Eng salah satu pelaku Usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mengembangkan produksi ikan lele sale ini. Ini pun bermula dari sekedar produksi bahan baku disekira tahun 1999.

“Ini mulanya panjang. Tahun 1998 kita bangkrut, kemudian ada beberapa kolam ikan. Tapi karena harga pakan yang terus melambung harganya, banyak petani yang tidak lagi pelihara.Tapi kita tetap berusaha untuk bertahan,”ujar Handy Eng, pemilik usaha Ikan sale asap di Desa Galuh Perbaungan, Serdangbedagai.

Dengan semangatnya untuk bangkit,  di tahun yang sama bahan baku untuk pembuatan ikan sale di Tapanuli Selatan, pun kurang. Disini menjadi titik balik bagi Handy.Bahan baku berupa ikan lele miliknya, dikirimkan ke Tapanuli Selatan dengan menggunakan cold disel. Karena dikirim dalam kondisi hidup, ternyata hingga ke lokasi tujuan banyak ikan yang mati. “Pas dibawa ke sana, banyak yang mati. Angka kematiannya mencapai 20%,”ujarnya.

Dari sini kemudia menjadi peluang baginya. Karena dalam proses tersebut, dia mendapatkan  ilmu bagaimana membuat ikan sale lele tersebut.  Kemudian memulai usaha produksi ikan sale lele.Saat memulai usaha ini, Handy mengaku cukup optimis memulai usaha tersebut.  Apalagi ikan sale ini juga sudah memiliki pasar. “Yakin bisa memulainya. Karena ketika dibawa kesana, sudah berapa ongkos yang harus dikeluarkan, belum lagi yang susutnya. Akhirnya kita buat disini,”ujarnya.

Karena dengan begitu, selain angka kematiannya hilang, juga ongkosnya lebih murah. Dari usaha yang kini memiliki 30 an orang tenaga kerja ini, sudah dipasarkan keberbagai daerah seperti TanahKaro, Jakarta, Sipoirok, Tapsel, Penyabungan , Panti dan beberapa daerah lainnya.

Tidak heran, dari hasil kerja kerasnya di tahun 2016 lalu, Handy Eng mendapatkan penghargaan Sidakaria, produksivitas dari Kementriantenaga kerja. Perestasi ini pun berlanjut, hingga ke Binjai dengan bertambahnya identitas kota tersebut dari kota rambutan dengan kota lele.

Dalam mengelola usaha ini, dia mengaku harga pakan menjadi salah satu tantangan yang paling sulit. Sebab harga pakan ini, tidak stabil dan mau tidak mau harus dibeli karena memang kebutuhan. Untuk pasar sendiri, tetap potensial dan berkembang terus. “Pemintanya ada aja, tapi tidak seperti tahun lalu.  Tahun ini anjlok 40% dibandingkan tahun lalu. Biasanya tiap tahun naik. Sekarang ini, pengakuan reseller setiap hari bisa hanya bisa laku antara 15 kg hingga 20 kg, padahal sebelumnya bisa mencapai 30 kg,”ujarnya.

Dia juga menyebutkan yang makan ikan sale ini, sudah ada pasarnya. “ Target kita, bisa menasional. Dengan ikut mengembangkan makanan tradisional ikan sale ini ke dalam dan ke luar Propinsi Sumut,”ujar pemilik brand Lele Asap Sergei ini.

Ditengah merosotnya omzet, Handy mengaku tidak bisa berbuat banyak. Meski begitu dia mencoba mensiasati penjualan tersebut dengan membuat ikan lele sale dalam kemasan. “Sekarang jadi ada yang kita kemas. Ini untuk melihat pasar baru, karena sekarang ini agak goyang sidikit,”ujarnya seraya berharap inovasi ini bisa menjadi salah satu upaya untuk mendongkrak omzet. (ukm01)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved