Rahma Manfaatkan Mangrove Jadi Pewarna Batik
Diposkan: 16 Oct 2017 Dibaca: 734 kali
UKMKOTAMEDAN.COM-MEDAN
Tanaman mangrove ternyata memiliki banyak manfaat yang bisa dipetik. Selain dapat diolah menjadi beragam produk seperti minuman, camilan, tanaman ini juga bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk pewarna alam batik yang ramah lingkungan.
Adalah Rahma salah satu pelaku usaha batik yang memanfaatkan pewarnaan alami untuk menghasilkan karya terbaiknya. Kreasi ini diperolehnya setelah mengikuti pelatihan membatik di Jakarta sekira tujuh tahun lalu.
Ini mulanya Rahma berkisah, Selasa (26/9), saat kontraknya dalam program penanaman mangrove di kawasan Pesisir Deli Serdang berakhir. Kondisi ini membuat bingung, bagaimana tidak setelah selesai penanaman mangrove masyarakat tidak lagi memiliki sumber penghasilan.Otomatis akan mendorong pertumbuhan pengangguran.
Disisi lain, mangrove yang ditanam pun semakin membesar. Melihat kondisi ini, Yayasan Gajah Sumatera melalui program penanaman mangrove diminta untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar bisa melanjutkan program tersebut secara mandiri. Gayung bersambut, harapan tersebut berbuah manis, karena masyarakat mendapat kesempatan mengikuti pelatihan pengenalan batik, setelah satu bulan kontak selesai.
Kemudian hal tersebut berlanjut dibulan kedua, Rahma terpilih dari dua orang yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan membatik di Museum Textile di Jakarta. Selama pelatihan, pemilik Liza Mangrove mengaku diberikan pembekalan bagaimana mencanting dan membuat pola.
“Saat pelatihan kita diberikan canting, lilin serta kain. Selama mengikuti pelatihan, diajari bagaimana maembuat pola dan mencanting,”ujarnya. Selanjutnya, selesai mengikuti pelatihan tersebut, berbekal canting, lilin serta kain 2 meter, Rahma harus memutar otak untuk menghasilkan sebuah karya setelah kembali ke Sumut.
“Setelah selesai pelatihan bingung, bagaimana mengembangkan ilmu yang didapat. Karena kita hanya dibekali canting, lilin serta kain sepanjang dua meter tanpa ada warna. Jadi ini kita mulai dari nol semuanya. Jadi setelah itu kita berpikir, kain ini mau diwarnai pakai apa,”ujar mitra binaan PT Telkom Witel Medan ini.
Kemudian sambungnya, orangtuanya mengingatkan tradisi leluhur dulu yang menggunakan getah kayu untuk mewarnai jaring-jaring mereka. Hal ini menjadi ide dan inspirasi baginya untuk memanfaatkan mangrove sebagai pewarna alami. Karena selama ini jika getahnya terkena baju tidak hilang.
“Terus kita uji coba dengan merebus kayu mangrove. Kita coba berulang-ulang. Namun tidak berhasil, yang ada warnanya justru rusak. Habis itu, kita beli kain satu meter kemudian dipotong kecil-kecil, tapi tidak berhasil juga. Sampai bulan keenam baru bisa menghasilkan satu warna,”ujarnya.
Berkat perjuangan dan semangat tersebut, dalam satu tahun Rahma mengaku bisa menghasilkan 3 warna. Dari sini, kemudian Rahma mengaku bermitra dengan Yayasan Gajah Sumatera. Kondisi ini berjalan dua tahun, Rahma pun mengelola usaha secara mandiri.
Berjalan tujuh tahun, Rahma sudah berhasil mendapatkan 13 warna dari bahan baku mangrove ini. Hasil karyanya tidak seperti batik yang menggunakan pewarnaan kimia yang warnanya lebih terang dibandingkan pewarnaan alami. Disamping itu, untuk pengerjaan satu lembar batik ini membutuhkan waktu sekira satu bulan lebih, sehingga tidak heran jika karya tersebut dipasarkan dikisaran Rp 1 jutaan.
“Kalau batik dengan pewarnaan mangrove ini, kita buat berdasarkan orderan. Karena pasarnya juga untuk kelas menengah ke atas. Selain itu ada juga batik yang pewarnaanya dimix dengan pewarnaan kimia, lebih terjangkau”tandasnya