Produk Mom’s Craft Terjual hingga Benua Eropa dan Amerika

Produk Mom’s Craft Terjual hingga Benua Eropa dan Amerika
Shanti (Kiri) saat di acara training eksport di Hotel Inna Dharma Deli Medan

Diposkan: 07 Jun 2018 Dibaca: 645 kali


 

UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Saat ini bisnis crafting sangat digemari masyarakat yang mampu  sejalan dengan menyalurkan hobi sambil berwirausaha. Seperti inilah yang dilakukan oleh ibu tiga orang putri bernama lengkap Shanti Permata Sari yang sering disapa Shanti.

Bahkan bisnis berlabel Mom’s Craf ini sudah bertandang ke luar negeri tepatnya ke Moscow serta terakhir menjadi icon produk Sumatera Utara (Sumut) di ajang Incraft 2018 di Jakarta Convention Center (JCC).

Dikatakan Shanti pada UKMKOTAMEDAN.COM ia terjun ke dalam bisnis ini sejak tahun 2011 lalu yang ia awali dengan berdagang fashion, tas, aksesoris dan craft. “Selain itu juga craft rajutan dan kristik serta pernak pernik bros. Tetapi di akhir 2013 usaha dagang baju dan tas berhenti karena pasar mulai lesu dan kesibukan saya di rumah serta tidak ada lagi asisten rumah tangga. Sehingga saya hanya melanjutkan craft rajutan made by order dan melatih ibu ibu di beberapa tempat,” katanya memulai cerita, Kamis (7/6/2018).

Shanti menjelaskan pada  awal 2015 ia mulai bangkit dan menggeluti decoupage atau kerajinan  bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan (biasanya kertas) yang ditempel pada objek dan kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur yang awalnya masih menggunakan media purun/pandan, rotan dan sekarang sudah ke media kayu, acrylik, kaca/botol dan kain.

“Alhamdulillah produk Mom's Craft sudah sampai ke luar negeri walaupun masih skala pribadi. Saat itu Mom’s Craft mengikuti pameran di Moscow dan yang terakhir menjadi icon produk Sumatera Utara di ajang INCRAFT 2018 di JCC,” terangnya haru.

Menurut perempuan yang tinggal di Komplek Pondok Surya Blok 4 No. 136 Medan ini, untuk saat ini Mom's Craft menawarkan produk decoupage namun sesuai dengan namanya "craft". Saat ini ia terus mencoba beberapa kerajinan seperti pemakaian pernik dari kain perca dan lainnya tapi tetap fokus di decoupage.

“Craft ini adalah hobi saya dan saya sangat menyukainya terlebih hobi ini bisa saya salurkan sekaligus menjadi ladang usaha dan amal untuk saya. Namun, kalau kita melihat pasar craft di kota Medan ini sulit berkembang mungkin karena masyarakat sudah terbiasa dengan produk murah dari luar terutama produk Cina jadi kurang bisa menghargai seni yag disajikan para crafter, Apalagi sulitnya mendapat bahan baku dengan kualitas bagus di kota Medan ini,” caritanya.

Untuk itu ia berharap usaha ini bisa lebih maju dan berguna untuk masyarakat sehingga tumbuh penggiat crafter- crafter baru di kota Medan. Berbicara pemasaran produk miliknya Shanti mengaku masih seputaran Medan, Batam, Aceh, Jakarta dan Jawa. “Kalau ke luar negeri sudah ke London dan Amerika tapi masih sifatnya pribadi bukan partai besar. Untuk harga yang saya bandrol di mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp1,5 juta,” ujar istri Buchari ST MKes salahs atu dosen di Universitas Sumatera Utara (USU).

Ia menambahkan saat ini produk yang paling banyak diminati sampai saat ini seperti clutch dan tas. “Dan masih dominan permintaan lokal lokal. Kalau customer luar negeri lebih banyak di acara-acara tertentu saja yang peserta nya juga dari luar negeri,” pungkas perempuan kelahiran Yogyakarta, 2 Mei  1974 ini. (UKM03)

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved