Jeli Melihat Peluang Bisnis Fashion
Diposkan: 05 May 2018 Dibaca: 542 kali
UKMKOTAMEDAN.COM-Maulana Muhammad Hasan, alumnus Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 2008 (UINSU) ini semula tak kepikiran dirinya bisa menggeluti usaha di dunia fashion retail. Tujuannya merantau ke ibu kota pada akhir 2015 lalu bertujuan mencari pekerjaan yang layak.
"Orang tua saya sudah lebih dulu menggeluti usaha berdagang pakaian, tapi saya tidak pernah kepikiran sama sekali untuk mengembangkan usaha milik ibu itu. Tapi setelah ke Jakarta dan ada kesempatan itu, akhirnya saya ambil dan mengembangkan sistem yang Alhamdulillah bisa eksis dan menghasilkan hingga sekarang," jelas Maulana.
Setelah lulus dari pendidikan kuliah, Maulana sempat menjadi tena ga pengajar dei sebuah sekolah di Jalan Darussalam. Selama hampir dua tahun mengajar, Maulana berpikir bahwa mengajar tidak memberikan efek kepuasan batin baginya, karena kegiatan mengajar yang monoton setiapharinya. Padahal ia punya kesempatan untuk meningkatkan karirnya.
Berhenti mengajar, Maulana juga sempat mencoba peruntungan lewat bisnis kuliner, bisnis kulinernya pun mulai dikenal dan ramai, tapi karena satu hal dan ia tidak bisa melanjutkan bisnisnya, cafenya puntutup. Jadilah ia memilih untuk berdikari ke Jakarta.
Tak memiliki pengetahuan apapun selain mencoba mencari pekerjaan yang layak. Maulana sempat luntang lantung selama tiga bulan, sampai akhirnya dia bekerja disebuah toko batu cincin. Pekerjaan nya waktu itu menjadi admin berjualan batu cincin lewat online, tapi ia merasa tidak bisa menjual lewat online karena harga batu cincin yang kelewat mahal. Ia putuskan berhenti. Pada satu kesempatan ia malah berkeliling ke Tanah Abang. Melihat keramaian dipusat pasar itu ia kepikiran untuk menjadi agen atau menjadi perantara antara penjual dan pembeli.
Satu-satunya upaya yang ia lakukan adalah menawari teman-teman dekatnya untuk menggunakan jasanya mencari barang fashion di Tanah Abang. Tawaran pun ia lakukan lewat akun sosial media facebook. Ia memfoto beberapa potong busana pria dan wanita yang sedang tren saa itu. Mulanya hanya satu dua orang yang mau menitipkan, itupun teman-temannya dari kota Medan.
Tapi ia terus mencoba menawarkan, lewat foto-foto yang menarik, dengan gaya promosi lewat facebook. Mengupdate terus lewat postingan Facebooknya dengan foto dan tulisan yang menggoda orang untuk segera berbelanja. Untuk menarik pasar yang lebih luas, iapun membuat akun instagram sebagai katalog online, setidaknya ada sekitar 8 akun instagram yang memposting busana-busana yang terkini dengan beragam mode dan jenis.
Masing-masing akun pun ia siapkan dengan karakter masing-masing. Mulai dari gamis, brukat, abaya dan kaftan, blouse, kemeja, kebaya, busana anak dan busana pria dan sebagainya. Ia klasifikasikan produk fashionnya mulai dari busana butik dengan harga mulai 500an ribu, dan pakaian ala anak mahasiswa dengan harga mulai 100ribuan. Ia juga menerapkan sistem reseller dengan menjadikan reseller member dari tokonya.
Dengan mendaftarkan sebagai member sebesar 200ribu rupiah, member bisa langsung belanja tanpa nominal tertentu yang akan langsung dipotong, sekalipun ia hanya belanja satu busana saja. Setidaknya ada sekitar ratusan reseller yang sudah menjadi membernya.
Permintaan kian ramai, melihat peluang ini Maulana sadar ia tidak bisa bekerja sendirian. Ia pun membuka cabang onlineshopnya di Medan dan membuka peluang orang lain untuk menjadi reseller atau dropship. Jika dahulu, model pakaian di Medan misalnya baru berganti mode 3-5 bulan kemudian, tapi dengan adanya toko online, orang selalu cepat update. Apa yang baru di ibu kota akan cepat sampai ke kota lain. Inilah yang dilihat Maulana sebagai peluang, bahwa bisnis fashion bisa menguntungkan. Selain itu mengingat kawasan tanah Abang yang sangat luas, ada ribuan model baju, yang bisa ia jual.
Siapa sangka dengan modal nekat menginjakkan kaki ke Jakarta, justru pintu rezekinya ia dapatkan di sini. "Ia ini sebenarnya modal nekat saja. Apalagi saya sama sekali tidak punya modal, karena uang habis untuk biaya hidup. Saya cuma punya modal kemauan dan peluang membangun sistem," jelas anak pertama dari 5 bersaudara ini. (wina/UKM03)